Posted in Ulasan Buku

Ulasan Buku “Panggilan Tanah Air”

Ulasan Buku “Panggilan Tanah Air”

karya: Noer Fauzi Rachman

Hasil gambar untuk panggilan tanah air
Tentu lagu-lagu Ismail Marzuki “Tanah Air-ku Indonesia” hingga Ibu Sud “Tanah Airku Tidak Ku lupakan” masih begitu lekat dari ingatan kita sebagai masyarakat Indonesia. Makna lagu yang menggambarkan akan kecintaan kepada negeri Indonesia tersampaikan begitu dalam kepada pendengar. Pemaknaan tanah yang begitu luhur sebab tumpah darah para pejuang republik ini merebutnya agar dapat dimiliki rakyat Indonesia demi terciptanya kesejahteraan masyarakat. Namun ketika kembali membuka mata kita atas apa yang kita lihat di alam bumi pertiwi kita saat ini, harapan yang termuat dalam lagu kian pupus termakan ketamakan manusia. Ditengah-tengah era modern yang begitu merubah wajah Indonesia kian menciptakan kemiskinan yang menjadi persoalan pokok untuk dituntaskan pemerintahan saat ini, salah satunya dengan reformasi agraria.

.
Di abad 21 ini ruang hidup masyarakat desa yang pada dasarnya sebagai penyedia kebutuhan mendasar negara kian tergerus ruang kehidupannya sehingga menghasilkan kemiskinan struktural di pedesaan. Kaum petani sebagai aktor utama dalam penyedia pengan menjadi sorotan kaum yang menuai beragam permasalahan seperti penguasaan tanah, nilai tukar pertanian yang rendah, konversi tanahpertanian menjadi non pertanian, perkembangan teknologi produksi dan pertumbuhan penduduk sehingga menciptakan depeasantization. Alhasil pandangan dunia atas pertanian dan hidup didesa tidak memiliki masa depan menjadi momok yang begitu menakutkan. Hal ini disebabkan oleh kekuatan ekonomi politik yang bekerja pada tingkatan global dimana cara hidup kapitalistik menjadi tujuan dari sistem ini dan berimplikasi buruk bagi desa.

.
Sistem Kapitalisme yang di gerakkan oleh (Pe)modal begitu mengerogoti tanah air Indonesia menciptakan re-organisasi ruang hidup penduduk pedesaan. Sistem ini tidak akan bisa statis karena dorongan produksi konsumsi yang terus diperbaharui demi akumulasi profit. Industrialisasi yang menjadi perkakas juga mendapat legitimasi oleh pemerintah lewat izin-izin misalkan izin pertambangan, perkebunan dll yang berorientasi pada keuntungan. Saat ini-pun untuk merawat keberlangsungan sistem kapital kian memainkan peranan besar lewat jaringan produksi internasional seperti MP3EI dengan cara-cara kekerasan untuk menciptakan re-organisasi ruang hidup jarang jadi pergunjingan yang bersifat urgen.

.
Adapun dalam perkakas lain yang menjadi penggerak sistem ini ialah pasar sebagai ladang persaingan kekuatan modal. Menurut Ellen M.Wood pasar tersebut dibedakan menjadi 2 yakni pasar sebagai kesempatan yang mendominasi cara pertukaran komoditas dan pasar sebagai paksaan yang mengakumulasikan keuntungan melalui kemajuan teknologi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan efisiensi hubungan sosial. Didalam pasar yang demikian maka sektor-sektor ekonomi yang tidak kompetitif seperti kerajinan lokal akan tenggelam.

.
Dalam sejarah Indonesia perlawanan terhadap sistem ini tampak di masa rezim Soekarno. Hal tersebut dapat kita ketahui ketika wacana tentang land reform kian hangat diperbincangkan meskipun peristiwa tahun 60-an yang menumbangkan Soekarno kian menengelamkan wacana tersebut sehingga menemukan jalan buntu. Ada tiga kutukan kolonial yang disebutkan oleh Soekarno yakni : pasar produk negeri penjajah,negeri sebagai tempat pengambilan bahan pokok industrial, dan negara menjadi tempat investasi. Maka dari itu beliau mewarkan solusi yang termuat dalam gagasannya yakni Trisakti: Berdaulat secara politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan.

.
Maka dari itu krisis Agraria menyebabkan keselamatan rakyat tidak lagi terjamin. Jika ditilik dari sejarah sejak zaman kolonial Belanda kita melihat bahwa desa hanya sebagai alat untuk memobilisir dan mengendalikan rakyat agar menuruti apa yang menjadi keinginan penguasa. Penyeragaman desa salah satu fakta kuat sebagai proses menghilangkan identitas desa yang identik dengan kebudayaan yang ada agar dapat dengan mudah dikuasai. Adapun setelah orde baru kebijakan seperti PNPM juga membentuk komunitas masyarakat miskin menjadi masyarakat proyek, akhirnya perselishan ataupun persaingan antar masyarakat miskin terjadi. Ini lah yang terjadi sampai pada rezim SBY. Namun kini melalui UU no 6 tahun 2014 tentang desa kita dapat bernafas sedikit lega karena memberikan jalan bagi desa sebagai prioritas pembangunan. Ada tiga prinsip yaang baiknya mulai kita awasi dan dukung dalam proses berjalan-nya kebijakan ini dengan masif yakni rokognisi, subsidiaritas, dan keberagaman. Harapannya kesempatan ini dapat menjadi ruang untuk menciptakan gerakan tandingan yang sepadan untuk melawan sistem kapitalisme yang bermuat ketamakan ber-implikasi kemiskinan.

.
Oleh karena itu makna lagu indonesia raya kira-nya memberikan kita suatu penghayatan kembali atas pesan yang begitu mendalam dari para pejuang bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan kita sebagai rakyat Indonesia dan segala isi bumi pertiwi ini, tanah air ini untuk kesejahteraan kita bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s