Posted in Ulasan Buku

Ulasan Buku “PKT”

Ulasan Buku “Pendidikan Kaum Tertindas”

Karya: Paolo Freire

Hasil gambar untuk pendidikan kaum tertindas

Sekitar beberapa tahun lalu, ada seorang anak kelahiran Brazil bernama Paolo Freire. Dia adalah seorang anak yang lahir dari keluarga kelas menengah di Recife, sebuah kota kecil pelabuhan. Ayahnya adalah seorang militer. Di umurnya 8 tahun, brazil sedang mengalami krisis moneter. Saat itu dirinya mengalami suatu penderitaan (kelaparan) yang luar biasa hingga bertekad agar anak lain tidak merasakan apa yang dirasakannya pada saat itu. Rasa kemanusiaan ini rupanya bukanlah hal yang main-main dan begitu melekat didalam dirinya. Hal ini dapat kita lihat dari apa yang dilakukan oleh Paolo Freire dalam kehidupannya.

.
Singkat cerita sejak ia ditinggal ayahnya di umur 11 tahun, ia mulai bergerilya dan mandiri sebagai seorang manusia. Alhasil beigitu banyak peristiwa pahit yang dialami dan dilihatnya. Misalnya saja pembuangan ia dari brazil karna dituduh mempropaganda masyarakat untuk melawan pemerintah, padahal saat itu freire sedang melakukan suatu praktik yang sering ia katakan ialah “penyadaran” kepada masyarakat, seperti mengajarkan aksara serta pendidikan politik. Situasi brazil saat itu sedang ingin melakukan pemilihan langsung presiden, namun salah satu syarat-nya ialah ia harus melek huruf. Padahal presentase masyarakat yang buta (juga buta politik) huruf lebih tinggi dari pada melek huruf. Tentu hal ini membuat perolehan suara yang ada memperkosa hak masyarakat yang buta huruf. Melihat hal seperti ini paolo freire turun kemasyarakat untuk memberikan suatu pencerahan kepada masyarakat, alhasil ia di buang oleh negara (mempertahankan status quo). Akhirnya ia-pun menjadi warga negara Chile dan berhasil menghantarkan Cile sebagai salah satu negara dari 5 negara besar yang berhasil meretas tuna aksara dinegaranya. Ini adalah salah satu prestasi yang berasal dari keringat seorang Paolo Freire.

.
Di umur 50 tahun ia mendapat undangan dari amerika serikat untuk menjadi tenaga ahli pusat studi pembangunan dan perubahan sosial serta guru besar tamu di Pusat stdui pendidikan dan pembanguna universitas harvard. Kondisi amerika saat itu, sejak tahun 1965 negara tersebut di terpa beragam permasalahan, salah satu yang paling krusial ialah peperangan RAS seta keterlibatan amerika atas perang di Asia. Kondisi masyarakat yang cukup mencekam serta kekerasan yang merebak dalam kehidupan masyarakat dunia, membuat freire menuangkan kegelisahannya dalam sebuah karya, salah satunya ialah Pendidikan Kaum Tertindas yang begitu monumental. Ia menyelesaikan buku ini di umur 50 tahun.

.
Pentingnya pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses penyadaran yang dilakukan manusia melihat kondisi internal (dirinya sendiri) dan eksternal (lingkungan) yang dialami manusia sehingga mendapatkan suatu kebijaksanaan dalam tindakan.Adapun manfaat pendidikan (idealnya) sebagai suatu kegiatan yang memerdekakan manusia ataupun memanusiakan manusia. Hal ini berangkat dari pandangan Paolo terhadap dunia. Dunia pada saat itu marak terjadinya perang sipil secara horizontal maupun vertikal. Berawal dari pemberontakan di perancis hingga runtuhnya unisoviet menjadi suatu referensi yang cukup mendalam memandang dunia dalam pola pikir freire. Adapun realitas yang terjadi ialah tindakan dehumanisasi yang berkepanjangan. Manusia yang fitrah-nya adalah baik, idealnya tidak melakukan praktik dehumanisasi. Pandangan ini pulalah yang memberangkatkan paolo untuk membumikan humanisme di dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut pendidikan memiliki peranan sangat penting sebagai sarana penyadaran manusia akan fitrahnya.

.
Paolo membelah masyarakat menjadi 2 klas, yang pertama ialah kelas menindas dan yang kedua ialah kelas tertindas. Kedua kelas ini adalah suatu wujud dehumanisasi. Yang pertama mempraktikan dehumanisasi itu sendiri dan yang kedua ialah imbas dari dehumanisasi. Lantas bagaimana ingin mewujudkan humanisme?. Apakah mungkin seorang yang menindas melepaskan kekuasaannya? Hal ini tidak mungkin karna setiap penguasa pastinya ingin melaggengkan status quo-nya. Lagi pula siapakah yang merasakan ketertindasan ?, maka dari itu idealnya kaum tertindaslah yang berperan untuk mewujudkan humanisme tersebut karena kaum tertindaslah yang merasakan ketertindasan tersebut. Untuk itu perlulah pendidikan kepada kaum tertindas dan disini kaum revolusioner memiliki peran penting untuk mewujudkannya secara bersama-sama.

Pendidikan Ala Paolo

Melihat institusi pendidikan yang dihadirkan oleh negara pada saat itu, Freire memandang didalam pendidikan itu sendiri terjadi pola dehumanisasi yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didiknya. Paolo menyebut sistem pendidikan itu sebagai sistem gaya bank, dimana peserta didik hanya dijadikan objek bukan sebagai subjek. Artinya pendidikan ada, berangkat dari kebutuhan yang dianggap pemerintah perlu dan memaksakan peserta didik untuk mengikutinya. Pendidikan bukan berangkat dari kebutuhan peserta didik. Alhasil ruang belajar sangat kaku, murid hanya menjadi perekam apa yang pendidik ucapkan. Maka dari itu paolo menawarkan suatu solusi yakni sistem pendidikan hadap-masalah. Pendidik dan peserta didik hadir sebagai subjek dan dunia sebagai objek sehingga terciptalah pola pikir murni yakni berpikir atas dasar keterlibatan dengan realitas. Konsep ini jugala yang pada akhirnya ditawarkan kepada kaum revolusioner untuk memerdekakan masyarakat tertindas.

.
Kaum Revolusioner

Untuk menjadi kaum revolusiner ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak menjadi penindas baru melainkan menjadi seorang humanis sejati yang benar-benar mencintai kemanusiaan. Ada 2 prinsip menjadi seorang pendidik humanis sejati yakni berangkat dari kebutuhan nyata dari rakyat, bukan apa yang kita anggap mereka butuhkan dan keinginan rakyat yang membuat tekad mereka sendiri, bukan tekad yang kita bangun untuk rakyat. Sehingga kaum revolusioner berperan membebaskan dan dibebaskan bersama rakyat, bukan menaklukkan mereka.

.
Disisi lain bagaimana meng”ada” secara manusiawi? hal inilah yang perlu diperhatikan oleh kaum humanis agar dunia diubah. “Kata” sebagai salah satu hakikat dasar seorang manusia dalam menjalin hubungan dengan manusia lainnya, menurut paolo memiliki 2 dimensi yakni aksi dan refleksi hingga pada akhirnya dunia diubah (praksis). Hal ini diartikan sebagai kata sejati. Untuk itu seorang manusia penting untuk melakukan aksi dan refleksi secara bersamaan dan terus teperbahurui secara dialektis dengan dunia. Manusia dan dunia bukanlah 2 hal yang terpisah melainkan saling berkaitan.

Anti-dialogis vs Dialogis

Praksis bukan berasal dari proses dikotomi melainkan proses serentak antara teori dan tindakan. Titik tolak praktik dehumanisasi yang menjadi pengamatan paolo adalah adalah proses dominasi seseorang terhadap seorang lainnya. Wujud dari dominasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari dapat kita telisik dari tindakan yang anti-dialogis. Ada beberapa gambaran tindakan anti dialogis:

.
Pertama, penaklukan. Pihak dominan biasanya melakukan hal ini secara kasar dan halus. Contohnya saja tindakan subversif dan doktrinisasi. Kedua, pecah dan kuasai. Hal ini salah satunya dapat kita lihat dalam proses NKK/BKK yang terjadi di Indonesia menciptakan pengklasifikasian organisasi mahasiswa. Ada yang intra dan ada yang ekstra. Ketiga, manipulasi. Ini sebagai suatu alat penaklukan. Penguasa berusaha membuat rakyat mengikuti tujuan-tujuannya sehingga menjadi suatu kerumunan yang dapat di atur dan tidak berpikir. Keempat, Serangan budaya. Mereka memaksakan pandangan dunianya sendiri kepada orang-orang yang mereka serang dan menghambat kreativitas kaum terserang dengan mengendalikan ungkapan-ungkapan kejiwaan mereka. Kelima, Penaklukan kebudayaan, mengakibatkan kebudayaan dari mereka melayani nilai nilai, patokan-patokan, serta tujuan para penyerang. Maka mereka akan terasing dari keudayaan mereka sendiri, sehingga kaum terserang ingin menjadi penyerang, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka berbicara seperti mereka.

.
Beberapa hal diatas tentu sangat terasa dalam kehidupan kita, maka tindakan antidialogis harus dilawan dengan tindakan dialogis. Adapun tindakan dialogis:

.
Pertama, Kerjasama. para pelaku berkumpul dalam kerjasama untuk mengubah dunia. Kerjasama sebagai suatu ciri dialogis hanya dapat tercapai melalui komunikasi. Dukungan sejati adalah kesamaaan pilihan secara bebas dengan perantaraan realitas.

.
Kedua, Persatuan untuk pembebasan, melaksanakan praksis pembebasan. Persatuan para pemimpin revolusi hanya terwujud dalam persatuan rakyat diantara mereka sendiri dan pada gilirannya dengan mereka. Objek tindakan dialogis adalah membuka kemungkinan bagi kaum tertindas, dengan memahami pelekatan mereka, agar mau mengubah suatu relitas yang tidak adil.

.
Ketiga, Organisasi. Bukan hanya berkaitan langsung dengan persatuan, namun juga merupakan “perkembangan” yang wajar dari persatuan itu. kesaksian, dalam teori tindakan dialogis adalah salah satu dari penjelmaan utama dari aspek kebudayaan dan pendidikan dari revolusi. Unsur esensial dari kesaksian yakni konsistensi antara kata dan tindakan. Tekad yang mendorong kesaksian untuk menghadapi kehidupan sebagai resiko yang ajek, radikalisasi yag membimbing baik kesaksian maupun orang yang menerima kesaksian untuk bertindak lebih banyak, keberanian untuk mencintai, keyakinan terhadap rakyat, karena untuk merekalah kesaksian dibuat. Bagi elite organisasi berarti mengorganisir diri mereka sediri, bagi para pemimpin revolusi organisasi berarti mengorganisir diri mereka bersama rakyat.

.
Keempat, Sintesa kebudayaan. Aksi kebudayaan dialogis memiliki sasarannya mengatasi berbagai kontradiksi antagonistis dalam struktur sosial tersebut, yang dengan demikian mencapai pembebasan manusia. Dalam sintesa kebudayaan, para pelaku yang datang dari dunia lain kedunia rakyat tidak berperan sebagai penyerang. Mereka tidak datang untuk mengajar atau menuangkan atau memberi apapun, melainkan untuk belajar bersama rakyat mengenai dunia rakyat.

.
Untuk itu!! marilah kita memperpanjang barisan revolusi secara bergandengan, bukan berbaris militarisasi yang di beri vitamin dogma-dogma tanpa tanya, perintah menjadi prioritas. Layaknya binatang. Hidup Humanisme! VorVeritas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s