Posted in Ulasan Buku

Ulasan Buku “Visi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Ulasan Buku “Visi Pendidikan Ki Hajar Dewantara”

Karya : Bartolomeus Samho

Hasil gambar untuk buku ki hajar dewantara

Ki hajar Dewantara adalah seorang tokoh yang hidup dari zaman kolonialisme Belanda dan Jepang. Ia melakukan pergerakan dalam beberapa ranah seperti politik (Budi utomo, Sarekat Islam, dan Indische partij), jurnalistik (Sudoyo Utomo, Midden Java, De express, Oettoesan Hindia, dan lain-lain) dan pendidikan (Taman Siswa). Tahun 1913 beliau ikut membentuk Komite Bumi Putera sebagai komite tandingan atas Komite Seratus Kemerdekaan Belanda. Hal ini dikarenakan Komite belanda tersebut merayakan kemerdekaan diatas penderitaan masyarakat Indonesia pada saat itu, serta reaksi atas penolakan pemerintah atas berdirinya Indisje Partij. Kritik yang dilontarkannya berupa suatu tulisan yang berbuntut hukuman internering atau hukum buangan bersama dengan rekan lainnya yakni Dowes Dekker dan Cipto Mangunkoesomoe. Ketiga serangkai inipun bersekapat untuk menjalani hukuman tersebut di negeri Belanda. Ketika balik dari Belanda dan kembali ke Indonesia Ki Hajar Dewantara mulai membumikan gagasannya mengenai konsep pendidikan yang diselaraskan dengan konsep kebudaya yang ada di Indonesia. Pembentukan sekolah Taman Siswa menjadi salah satu bukti bahwa Ki Hajar Dewantara sangat serius bergerak didalam bidang pendidikan.

Dimata para pejuang bangsa seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dll beliau juga dikenal sebagai pemberontak. Pada dasarnya nama asli Ki Hajar Dewantara ialah Soewardi Surjaningrat dan ia adalah keturunan ningrat namun di umur 40 tahun  ia memilih nama yang lebih merakyat yakni Ki Hajar Dewantara. Meskipun keturunan ningrat beliau memiliki prinsip sejak menjalani pembuangan di Belanda sebagai manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, mandiri.

IP adalah partij yang dibangun dia bersama rekan-rekannya yang memiliki semangat untuk menyatukan Hindia Belanda bebas dari penjajahan Belanda. Ini adalah partai nasionalisme pertama di Indonesia yang tidak membawa rasa primordial karena ingin mengangkat derajat golongan bumi putera pada saat itu. Adapun isi tulisannya yang mengkritik komite Belanda (1913) :

“Sekiranya aku seorang belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri merampas kemerdekaannya sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saha tidak adil tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. pikiran untuk menyelenggarakan perayaa itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan penghinaan lahir ddan batin itu! kalau aku seorang belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi pekerja yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

Pilar-Pilar Pemikiran Tentang pendidikan

Pendidikan ialah daya-upaya yang disengaja secara terpadu dalam rangka memerdekakan aspek lahiriah (tindak-pikir) dan batiniah (perasaan) manusia. Hal ini membuat manusia berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri jadi manusia beradab. Kecerdasan budi pekerti berkat pendidikan mengantar seseorang pada kemerdekaan hidup yang sifatnya ada tiga macam : berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya (menguasai). Kemerdekaan model itulah yang membuat orang senantiasa insaf (sadar) akan kewajiban dan haknya sebagai anggota dari pesatuan rakyat. Dapat memajukan kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Berbanding terbalik dengan model pendidikan penjajahan yang memuat unsur perintah, hukuman, dan ketertiban. Hal ini membuat budi pekerti anak hancur karna selalu hidup dibawah paksaan.

Adapun di dalam proses pembelajaran peserta (subjek bukan objek) didik diberi ruang yang seluasnya untuk melakukan eksplorasi potensi-potensi dirinya dan kemudian berekspresi secara kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Pendidik menuntun proses untuk mengekspresian potensi-potensi diri peserta didik agar terarah dan tidak destruktif bagi dirinya dan sesamanya.

Ada 3 semboyang pendidikan yang menunjukkan ke-khasan Indonesia : Pertama , pendidik didepan sebagai teladan. Kedua, pendidik memprakarsai dan memotivasi didiknya untuk berkarya. Ketiga, membangun niat, semangat dan menumbuhkan ide-ide bersama peserta didik. Pendidik mendukung dan menopang muridnya berkarya ke arah yang benar bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu metode pendidikan yang dianjurkan Ki Hajar Dewantara bersifat mengasuh.

Ada lima asas pendidikan yang dikenal dengan sebutan Pancadharma: Pertama, kodrat alam atau tertib damai. Dalam hal ini pendidikan dilaksanakan atas dasar perhatian yang besar kepada kebebasan anak untuk bertumbuh lahir dan batinnya sesuai dengan kodratnya. Kedua, kemerdekaan. Ketiga, kebudayaan. Keempat, kebangsaan dan Kelima, kemanusiaan.

Maka dari itu kemerdekaan yang dimaksudkan ialah ketika seorang anak manusia hidup dalam kesadaran diri sebagai pribadi yang hidup mandiri, memiliki kebebasan dan hak-hak dasar yang patut dihargai dan juga wajib menghargai pihak lain. Artinya lahirnya tiada diperintah, batinnya memerintah sendiri dan dapat berdiri sendiri karena kekuatan sendiri. Adapun sikap dan sifat hidup yang dianjurkan Dewantara ialah Trikon : kontinuitas (dasar kultural/identitas luhur), konsentrisitas (dasar nasional/pluralis) dan konvergensi (dasar kemasyarakatan). Salam, Vor Veritas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s