Posted in Ulasan Buku

Menilik Humanisme

Menilik Humanisme

oleh : Tohi

“Meskipun manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling luhur, tugas manusia bukanlah untuk mendominasi alam semesta lewat pengetahuaan, melainkan, untuk berujung, dalam hidup moral dan rohani mereka, untuk meraih martabat luhur itu yang dimungkinkan oleh penjelmaan (Allah dalam Yesus Kristus)”, Petrarch.

Apa yang penting dalam hidup ini? Seorang Skolastik akan berpendapat pencapaian kebenaran dan pengetahuan mengenai Allah adalah tanggung jawab manusia yang paling agung. Sedangkan seorang humanis percaya bahwa menghidupi kebenaran abadi serta mencintai Tuhan dan sesama adalah tugas utama. Dalam memandang akal budi, kaum humanis mengutarakan bahwa akal budi manusia hanya cocok untuk dipakai dalam menanggapi masalah-masalah moral tertentu yang muncul dalam proses kehidupan yang berlangsung.

Humanitas dapat menangkal etnosentrisme. Etnosentrisme yang dibungkus rapi oleh agama akan berujung pada primordialisme akut. Dan untuk menangkal ini perlu mengunduh humanisme kedalamnya hingga melahirkan toleransi beragama bahkan sesame manusia.

Lahirnya Kemanusiaan

Humanisme lahir ditengah himpitan beragam agama yang menyodorkan ketakutan-ketakutan dibalik kubur timbang perhatian dan penghargaan terhadap kehidupan di dunia yang nyata ini. Situasi ini terjadi manakala doktrin keselamatan berubah menjadi alat control atas kebebasan individu, yang penting tidak lagi manusia nyata, melainkan agama. Alhasil manusia cenderung ter-alienasi dari keduniawian yang otentik.

Lalu, sampailah pada humanisme modern yang menempatkan manusia dan rasionalitasnya sebagai pusat segala sesuatu. Adapun Rene Descrates meletakkan dasar melalui tesisnya, aku berpikir maka aku ada, yang berujung pada paradigma antroposentrisme. Penemuan akan keterkaitan antara hukum alam dan hukum akal budi memberi dalil bagi para humanis ateis menyakinkan bahwa kekuasaan Tuhan tidak lagi dapat dilacak dari mukjizatnya, melainkan pada arloji semesta yang mencerminkan sesuatu desain ilahi. Maka semakin mengetahui cara alam bergerak berbanding lurus dengan semakin dekat dengan Tuhan. Lahirlah yang dinamakan dengan “manusia alamiah”.

Manusia ilmiah ialah makhluk yang memiliki kebebasan dan akal, sekaligus juga seperti binatang didorong oleh naluri-nalurinya. Dari hal inilah tumbuh berbagai pengetahuan, teknologi, industry, birokrasi, profesi dan lain-lain. Kebahagiaan pun tidak lagi di tunggu sampai pengadilan terakhir, melainkan di upayakan sekarang dan di dunia-sini.

Kemanusiaan tanpa Tuhan

Ada jenis humanisme yang menganggap agama menjadi penghalang. Lantas kenapa pemikir humanis tersebut berpikir demikian. Ada dua aspek yang perlu di perhatikan untuk mengulas hal ini yakni, histori dan epistimologi. Dalam bilik sejarah ada otoritas dan dogmatisme yang menyelimuti cara berpikir silam sehingga tidak berani memakai pikirannya sendiri (kesadaran sejarah). Sampailah pada kesimpulan bahwa kepercayan tehadap Tuhan berpotensi mengebiri otonomi manusia dan kesadaran akan Tuhan harus di dihapuskan (epistimologi). Alur pikir dalam suasana Teosentris tersebut juga berimplikasi pada keterasingan manusia dari dirinya sendiri sehingga cenderung berparadigma mistis dalam memandang persoalan duniawi (fatalitas). Oleh sebab itu manusia perlu untuk dibebaskan dari cara berpikir demikian. Saat suanana demikianlah huminisme menganggap agama menjadi penghalangan.

Dalam hal membebaskan diri, bagi seorang humanis praktis seperti Karl Marx, menempuhnya dengan perubahan struktural yang menghapus kelas-kelas sosial-ekonomi otomatis akan menghapus agama (dibaca: Agama sebagai candu). Lain hal dengan humanis positivistis Auguste Comte yang menempuhnya dengan reorganisasi sosial lewat sains. Ia terkenal dengan pembagian fase yang dibagi menjadi 3 bagian yakni, mistis, metafisik, dan positivis. Dan humanis yang sepenuhya otentik (menolak cara berpikir dan pola hidup agama) dirumuskan secara metafisik oleh Paul Sartre melalui uangkapanya “eksistensi mendahului esensi”. Menurutnya manusia bereksistensi dulu, yakni berada di dunia ini, dan baru kemudian bisa didefinisikan esensinya, yakni setelah ia mati.

Adapun pikiran dari humanis ateis memberi sumbangan pada peradaban dalam hal moral rasional. Hal ini di ungkapkan karena kemampuan manusia untuk berbuat baik tanpa sebuah transenden ataupun keterikatan terhadap agama. Moral-rasional pula berpotensi menciptakan toleransi diantara umat manusia karena tidak bertumpu pada iman religius tertentu. Kedua ialah kritik terhadap agama secara rasionalitas untuk menyelamatkan pengkebirian akal sehingga bakat rasional manusia ditindas. Ketiga ialah berkembangnya ilmu empiris yang meneliti agama (Frued) membawa sudut pandang penghayatan ke perspektif pengamatan.

Kemanusiaan Tanpa Manusia

Dalam sub bab ini ingin menilik hubungan antara humanisme dengan era kolonialisasi abad 15 sampai ke 18 dan hubungan humanisme dengan totalitarianism abad 20. Hal demikian lahir ketika manusia dengan kekhasan dan perbedaannya disingkirkan oleh definisi eksklusif tentang manusia.

Kolonialisasi terjadi ketika bangsa Eropa Barat mulai ingin memberadabkan bangsa lain melaui gagasan kemanusia universal. Sayangnya dalam konsep antroposentrisme yang di sodorkan berpusat pada  pengertian orang Eropa sehingga bangsa lain dianggap inferior. Hal ini pula menjadi dalil membenarkan praktik keji terhadap kaum terjajah dan didukung dengan proses hegemoni kultural barat.

Dalam situasi tersebut seorang filsuf yakni Hanna Arendt berpendapat terjadi ketidakmampuan manusia mengambil alih tempat Tuhan sehingga menundukkan diri dibawah hukum-hukum alam yang menyangkal kebebasan manusia. Akhirnya manusia mati di bunuh oleh konsep kemanusiaan itu sendiri di tempat antroposentrisme peradaban modern mencapai titik nadirnya.

Matinya Kemanusiaan         

Dari situasi diatas, memberi kita pengetahuan bahwa humanisme memiliki bahaya sepadan dengan agama jika dimengerti secara ekslusif dengan menyingkirkan manusia konkret dalam keberlainan kultural, ras, gender, maupun kelasnya. Oleh karena demikian lahirlah para kritikus yang mengkritis humanism dan mengatakan kematian humanism.

Humanisme mengandaikan manusia ada lebih dulu kemudian dunia atau kenyataan ada dengan dikenali manusia. Struktur metafisis yang menempatkan dunia di bawah kehendak dan dalam kendali bahasa dan subjek inilah antroposentrisme. Namun bagi Heidegger kenyataan telah ada lebih dulu dan manusia “dipanggil” oleh ada kenyataan untuk memelihara kebenaran ada. Jadi, manusia bukan berada di pusat kenyataan, melainkan berdampingan dengannya.

Ditangan Derrida pengertian itu kian dipertajam yakni dengan menghentikan pencarian hakikat, karena jika itu dilakukan akan membangun sebuah rezim makna yang bersifat hirarkis yang akan meminggirkan hal yang tidak dapat dimaksukkan kedalam makna yang dianggap asli itu. Dekontruksi menjadi sebuah cara untuk menghentikannya dan melihatkan sebuah interteksualitas, yaitu menghubungkan makna yang lain secara interpretative. Itu artinya humanisme didestralisasikan dan dipluralitasasikan.

Selanjutnya Rorty memandang humanisme sebagai perkara kontingensi (keadaan yang masih meliputi ketidakpastian dan berada diluar jangkauan) bahasa.  Ia menolak fungsi bahasa sebagai deskripsi dunia, seolah dunia ada diluar bahasa. Menurutnya bahasa menciptakan dunia dan sejarah tidak lain dari perubahan semena-mena language game yang satu ke yang lain, sehingga dunia berubah menurut perubahan leanguage game itu. Terakhir, Rorty menolak adanya “kosa kata akhir” sebagai ukuran kebenaran leaguage game. Ia berpendapat bahwa selagi kita menyakini “inti Diri”, keyakinan itu akan menghalangi solidaritas kita dengan orang lain, misalnya komunis terhadap non komunis. Sentimentasi menjadi jalan keluar untuk membangkitkan solidaritas yang berarti mengabaikan RAS karena mempu melihat dan merasakan kesamaan dalam penderitaan yang dialami orang lain.

Humanisme Lentur 

Untuk menyelamatkan humanisme dari kubangan metafisika (ketika antropos menjadi theos), perlu kekuatan kritis-normatif humanism yang was-was terhadap totalisasi dan homogenisasi. Humanism ini tidak menolak kemungkinan kebenaran agama dan tidak berpegang pada kebenaran kaku antroposentrisme melainkan ingin menyelamatkan manusia dari praktik hegemoni yang menindas. Pendirian ini dinamakan humanisme lentur.

Itu artinya hal yang dapat diterima dari humanism adalah aspek kritis dan normative yang bagaikan “roh” senantiasa was-was terhadap berbagai bentuk hegemoni, tidak hanya agama, melainkan juga dari sains dan filsafat, yang menindas manusia dan bakat-bakat kodratinya yang tumbuh dari akalnya, rasa perasaannya, dan naluri-nalurinya. Dan menolak hipertrofi humanism dari bilik metafisika serta tidak terjebak pula pada pemuja partikularitas hingga takut membangun kebersamaan.

Ada 2 hal yang menandai humanisme lentur yakni :

Pertama, kelenturan menyatakan keyakinannya bahwa universalitas kemanusiaan itu mungkin, bukan sebagai ukuran yang ditetapkan sebelumnya secara monologal, melainkan sebagai suatu visi yang di perjuangkan secara dialogal.

Kedua, manusia terbuka terhadap sesuatu yang melampaui dunia ini, dan ini dilakukan tanpa menyangkal keduniawian manusia. Dengan bersikap moderat terhadap akal, kebebasan, dan iman, akan menemukan kembali makna kemanusiawian diantara puing-puing metafisika humanisme.

Jika penulis mengambil jarak dari substansi yang ingin disampaikan pada dua buku yang menjadi referensi untuk menuliskan materi terkait humanisme ini. Buku yang di tuliskan oleh Budi Hardiman memberi pesan pada pembaca akan tiga kondisi transisi cara berpikir, yakni dari teosentris, antroposentris modern hingga menuju antoposentris postmodern (lentur). Ketiga cara berpikir demikian pula lahir dalam situasi yang terus berdialektis.

Dalam hal praksis dari ulasan ini terdapat pada buku Skolastisisme vs Humanisme karya Thomas Hidya Tjaya yang berujung pada pembedaan seorang pencari kebenaran mutlak dengan seorang yang menghendaki kebenaran tersebut untuk diwujudkan berkaitan dengan moralitas. Untuk apa mengetahui apa itu keutamaan kalau keutamaan itu tidak dicintai ketika sudah diketahui? Apa guna mengetahui apa itu dosa kalau dosa tidak dibenci ketika sudah diketahui? Mengetahui itu tidak sama dengan mencintai; memahami juga berlainan dengan menghendaki. Salam.

Referensi : Buku Budi Hardiman, Humanisme dan Sesudahnya.

Buku Thomas Hidya Tjaya, Humanisme dan Skolastisisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s