Posted in Ulasan Buku

Ulasan Buku Larasati

Ulasan Buku Larasati

Karya : Pramoerdya Ananta Toer

Oleh : Tohi

Hasil gambar untuk buku larasati

       Sederet kata dibalik sampul, ada gambar sang penulis sastra yang karyanya menaruh ancaman bagi sebuah rezim penuh kebengisan. Disamping, ada sepenggal kalimat, Kalau mati, dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau berani tidak ada, itulah setiap bangsa asing bisa jajah kita, mengandung makna yang memiliki spirit kuat. Mungkin secara umum, apalagi dari kalangan akademisi untuk menguraikan asal muasal negeri ini terjajah akan masuk pada soal-soal ekonomi-politik yang menuntut sebuah logika ilmiah. Rumit bukan? Tapi dalam novel 178 halaman ini, memberi kesederhanaan dalam memahami salah satu soal dasar yakni keberanian sebagai kekuatan mentalitas yang menjelma jadi problematika alot dalam cerita. Dalam teks menuturkan bahwa Berani lahir atas keistimewaan ataupun konsekuensi logis jika ingin membumikan diri dari ide kemerdekaan. Alhasil kata jajah akan terkubur dalam dari bumi pertiwi dengan melancarkan revolusi dalam pekik dan tindak. Gimana, sulit gak untuk merdeka?

        Larasati dalam novel ini memberi gambaran saat suasana kemerdekaan kian masih berumur muda, mengambil rupa sebagai tokoh aktris paling ternama sewaktu itu. Tokoh ini berperan sebagai pendukung republik dalam kancah perang yang tak hanya melawan Belanda melainkan kaum bangsanya sendiri. Sungguh menjadi problem pelik untuk ditembus dalam mewujudkan revolusi. Kau harus melawan saudaramu sendiri yang juga ditindih derita. Apalagi menyadari dengan baik alas memilih menjadi serdadu Belanda terkadang ialah pilihan antara memberlangsungkan hidup agar tak mati diterjang peluru koloni. Kondisi demikianlah membuat pilu sosok perempuan yang berangkat dari Yogyakarta untuk menjumpai Ibunya di Jakarta.

        Dalam perjalanannya, banyak hal yang membuat hatinya teriris. Terutama ketika melihat sesama  bangsa saling membunuh demi mempertahankan kekuasaan masing-masing. Tembak-menembak, tusuk-menusuk, hingga siksa perlahan berujung nafas ditelan oleh senjata tajam, berlangsung sangat buas. Saling curiga pun tak terelakkan antar pendukung Nica ataupun republik. Jakarta yang waktu itu sebagai pusat kekuasaan Nica, membuat langkah-langkah Larasati kian berliku. Terlebih lagi saat melewati perbatasan. Dipertanyakan sebagai pendukung republik yang berujung pada siksaan tak membuat padam cintanya pada revolusi. Ia begitu ingin revolusi hadir meski nyawa menjadi imbalannya.

        Beruntung ia seorang artis ternama hingga dapat lewat dari siksaan para serdadu saat memasuki wilayah perbatasan dan pusat. Meski begitu, saat seorang inlander mencoba menyerangnya, ia tak gentar untuk terus melawan. Suatu waktu ada seorang yang namanya Mardjohan seorang sutradara film, memintanya menjadi artisnya. Namun ditolak mentah-mentah. Tak sampai disitu saja, bahkan sang kolonel juga mencoba membujuknya, tetap hanya berakhir pada perdebatan. Ia bahkan tidak takut untuk terus membantah anggapan mereka yang mengutarakan diri berada di jalan perjuangan yang benar. Membujuk untuk menjadi sekutu dengan tawaran bintang film saat itu menjadi tawaran sexy, apalagi banyarannya yang besar. Tapi ia tetap menolak! Dalam pikirnya jika ia bersekutu, maka sia-sia kematian pemuda-pemuda yang saat itu kian belia, bayangkan saja mereka yang masih berumur 14 tahun sudah menjadi pemimpin untuk melancarkan serangan ke pihak musuh. Pedang, bambu, senjata curian  jadi alat untuk melawan meriam mesin dan senjata api dari serdadu Belanda. Parahnya, hal itu bercampur oleh rasa lapar dengan tubuh kurus berselimut pakaian yang amat lusuh. Tanda perjuangan diatas penderitaan yang dahsyat.

        Ada kondisi ketika itu Larasati ikut dalam sebuah perang yang dilakukan pemuda tempat ibunya tinggal. Dalam suasana perang, sang pemimpin terus bertanya kepadanya, apakah kamu takut?awal-awal tubuhnya mengigil, ia gemetar. “Kau dengar suara tangisan anak-anak itu? Untuk itulah kita berjuang!” jelas sang pengatur serangan yang akhirnya mati karena tertembak perutnya. Nyata, pernyataan itu membuatnya tersentak, hingga sedih sejadi-jadinya. Tekadnya semakin bulat, ia tidak akan pernah berbelot! Ia tetap menjadi seorang yang dingin terhadap segala penentang republik. Ya, dia pemberani, meski rentan tubuhnya menjadi pemuas nafsu para pelacur kuasa. Wah, pembaca akan sangat emosional!

        Membaca novel ini, membangun kesadaran akan peliknya awal-awal membangun negeri. Darah demi darah tercucur, mematikan diri untuk tindak yang lebih luhur. Pemuda berada di barisan terdepan, jatuh satu persatu dimedan perang. Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat revolusi! Sebuah pernyataan yang bersemayam dari rasa kesal Larasati melihat orang semacam kolonel dan mardjohan yang menghasutnya untuk bersekutu. Mengapa dunia ini begini penuh iga busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejahtera dari pada yang lain? Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain Alangkah sia-sia pendidikan orang tua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah, pekik kecewa larasati. Semua berasal pada rasa takut, terutama atas kematian hingga ketidak berdayaan terhadap kuasa. Mereka yang mengangkat senjata sejak dini, bukan tidak punya rasa takut tapi mencoba untuk mematikannya. Demi apa? Sederhana, hidup era ini ialah buahnya!

        lantas apakah kita yang hidup diabad 21 ini telah berupaya seperti Larasati, juga pemuda yang rela mati? Ditengah gelombang peradaban yang kian surut bak air WC yang berujung pada muara kotoran? Menjadi sebuah pertanyaan menohok untuk dijawab pada ibu pertiwi. Saat ini,  korupsi kian massif merajalela, kaum terdidik kian diam, adapun bersuara kecil yang membentur kuasa, disumbat dengan cara-cara yang kotor. Dari kasus e-KTP, perseteruan pengusaha vs rakyat kecil, proyek infrastruktur berbasis pilu-derita, hingga pesta demokrasi yang menghabiskan dana triluyunan, tapi menghasilkan pe-mimpi-n sejak dini berpolitik praksis dengan politik SARA yang memecah belah bangsa, dan lain-lain. Membuat kita harus kembali merenung dan bertanya-tanya, untuk apa negeri ini dibentuk?

        Huah, sangat layak untuk dibaca bagi yang ingin mengenal kata berani dalam suasana awal negeri ini dibangun. Bdw, cara buku ini bertutur sangat asik, terlebih dalam menggambarkan suasana dan konflik, sangat emosional. Ya, begitulah kira-kira. Selamat menikmati. Salam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s