Posted in Cerita

| Panta Rhei |

Oleh : Tohi

Kira-kira tahun 2013 silam, saat pertama kali aku  mulai mengikuti diskusi ala mahasiswa dalam sebuah komunitas di Medan. Tersajikan percakapan menarik dengan topik aktual permasalahan di kampus. Moment itu dimulai dari pukul lima sore. Aku diajak oleh seorang perempuan. Ia seniorku. Awal-awal mengatakan ada acara makan-makan. Sampai ditempat. Eh, rupanya ada diskusi. Aku merasa tertipu. Dikelabui untuk kepentingannya. Hmp, lambat laun aku mengerti, lebih tepat  mengatakan demi kepentingan komunitas.

            Aku telat kira-kira satu jam. Sewaktu memasuki pintu, kerumunan itu terlihat sedang berkonsentrasi, hanya sedikit menoleh padaku. Itupun hanya sesaat. Gila! Serius amat pikirku.  Aku duduk tepat disamping seniorku. Didepan hadapanku seseorang sedang menjelaskan. Ya, mirip-mirip orang sedang presentase. Aku terkesima. Ada seorang mahasiswa yang ingin presentasi tanpa imbalan apapun! Bahkan itu bukan tuntutan dari mata kuliah. Hahaha, antik nih. Kalau dikelas-kelas perkuliahan bisanya mah orang menghindar untuk melakukan presentase, kalaupun jadi, ya terpaksa demi nilai! Eh, disini terbalik. Aku mulai bertanya-tanya dalam pikirku.

          Orang yang sedang menjelaskan disebut pemateri. Setelah menjelaskan, moderator mulai mengambil alih percakapan. “Baiklah, kita mengalir aja ya”, sepenggal ucapan. “Dari kiri kekanan ya”, sambungnya. Itu sebuah komando. Setelah itu orang per-orang (kiri ke kanan) mengucapkan pandangannya terkait topik yang sedang diulas. Aku mulai menyiapkan kata-kataku. Tapi tidak berhasil. Aku tidak mengerti, aku gagap. Sampai pada giliranku. Aku tersenyum, cengegesan. Aku menggeleng. Tanda ketidakmampuan! Sedikit malu sih, tapi yasudahlah.

            Diskusi berlangsung seru. Pertanyaan terus diajukan untuk menjabarkan sampai sesederhana mungkin atas penjelasan. Sanggah menyanggah dengan argumentasi masing-masing berlangsung alot. Teori beserta analisis yang amat lekat dengan pendekatan sejarah di perbincangkan. Asik! Seketika aku merasa bodoh. Tidak mengetahui apa-apa. Iri mulai menyelimuti. Motivasi ingin menjadi orang-orang yang mampu berbicara seperti didepan hadapan tumbuh beriringan.

           Sekitar pukul tujuh malam, perbincangan mulai di dikerucutkan. Terakhir, sebagai orang yang baru mengikuti diskusi. Aku diminta memberikan kesan dan pesan atas perjumpaan hari itu. Selesai. ***

      Cerita diatas adalah sebuah pengalaman pribadi yang tentu berbekas bagiku. Moment pertama yang menjadi awal cerita panjang hingga saat ini. Ya, aku menjadi pengurus komunitas itu kini.

            Lantas apa kaitan dengan judul tulisan yang ntah dari bahasa apa itu, “Panta Rei”. Hahahha, jadi begini. Baru-baru ini aku membaca buku “Potret Siapakah Aku”, karya Protasius Hardono Hadi. Buku ini membahas sebuah proses pencarian jati diri. Untuk melampiaskan nafsu membaca, aku nikmati kata-kata dalam lembar demi lembar. Hingga aku  jumpa kembali pada kata itu. “Kembali?” Ya sebelumnya aku pernah menemukan kata ini di buku yang lain, yakni “Pengantar Filsafat Barat”, karya Bertens. Aku suka pada pandangan ini. Lebih maju, aku sependapat!

        Kata ini mengandung arti, segalanya mengalir. Kata ini diucapkan oleh seorang filsuf yang bernama Herakleitos. Ia seorang filsuf yang lahir dari keluarga di Efesus, saat itu masih berada di abad sebelum masehi. Lebih lanjut ia menerangkan, di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang dapat dikatakan tetap. Semua mengalami perubahan, muncul keberadaan, berkembang menjadi lebih utuh, dan mati dalam kebinasaan. Jelasnya,  Panta Rhei Kai Uden Menei, “Semua mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap”. Kala itu ia menjadi Filsuf yang bertentangan dengan Parmenides yang memandang semuanya adalah tetap. Perubahan yang terjadi hanyalah semu, terangnya.

       Heraklitos sangat mengilhami sebuah “perubahan” adalah sesuatu yang nyata. Adapun materi tidak ada yang betul-betul ada (dalam arti tetap), semuanya dalam proses menjadi. Dan didalam proses itu terjadi pertentangan. Sampai-sampai ia memaknai, perang (pertentangan) adalah bapak segala sesuatu. Misalnya adanya terang dan gelap, baik dan buruk, dll. Bayangkan kalau hidup ini hanya diisi oleh baik aja gitu. Kan flat! Atau nyatanya ada gak orang yang sejak lahir sampai mati hidupnya baik atau buruk aja gitu? Pasti selang seling. Tidak menetap pada salah satu. Itu tandanya perubahan terjadi dan pertentangan juga berjalan mengisi.

        Lantas apa hubungannya dengan cerita diatas? ketika mencoba untuk mencocokkan ide Herakleitos dengan pengalamanku, aku bayangkan dan dapat point kira-kira begini. Andaikan setelah pemateri menjelaskan moderator tidak mengucapkan, mengalir. Bisa jadi pemateri terus berbicara. Terakhir kayak khotbah deh. Kan bosen banget. Terus seolah olah apa yang dikatakan itu benar tanpa sebuah proses tanya-jawab yang berjalan. Lantas, apakah layak kita namai itu diskusi? Ya meskipun dimaksudkan untuk demikian. Secara mendasar, diskusi dapat diartikan sebagai proses bertukar pikiran. Didalam proses ada tanya jawab hingga silang pendapat. Tentu tugas moderator untuk menyimpulkan.

      So, tanpa dimulai dengan kata, mengalir. Diskusi akan keropos. Hampa. Kalo pengurus saat itu bilang tidak hidup. Tentu dalam hal ini diperlukan partisipasi dari peserta diskusi juga untuk mengaktifkan diri dalam berargumen. Dengan begitu pertentangan atau nama kerennya dialektika dapat menghidupkan diskusi. Lantas dimana letak perubahannya? Tentu banyak hal, misalnya cara pandang dan keberanian untuk mengucapkan kata. Tentu semakin giat diskusi, cara padang lebih luas dan sistematis selain itu keberanian dalam mengutarakan pendapat semakin kuat dan enjoy. Tak hanya itu sih, tak jarang juga cara pandang yang lebih luas juga berdampak pada cara menjalani hidup. Jadi dampak nyata banget.tapi paling utama ialah alur diskusi yang lebih kaya, sepersekian detik argumentasi tiada yang menetap. Terus diuji oleh tanya-tanya yang tentu buat rasa skeptis muncul, atau sebaliknya makin memperkokoh/melengkapi.

          Ringkasnya, aku akan memandang diskusi lebih hidup jika slogan Panta Rhei Kai Uden Menei, berada dalam pandangan kita. Ntah moderator sadar atau tidak kata mengalir yang di ucapkan punya makna yang dalam jika dikaitkan dengan pandangan si Herakleitos. Artinya segala sesuatu pasti berubah dan kita menginginkan suatu perubahan terjadi segala hal kearah yang lebih baik. Tentu dengan melewati pertentangan demi pertentangan. Diskusi tidaklah sebatas percakapan biasa, melainkan proses mengasah diri untuk menjadi lebih tajam. Lalu siapa yang mau ditusuk? Hahahahah, jawab aja sendiri! Udah ah, pokoknya dibalik kata mengalir mengandung perubahan! Dan makna “mengalir” dalam diskusi menyimpan daya itu! Oleh karena itu budayakan diskusi. hehehehe

      Oia, soal seniorku itu tadi tidak sepenuhnya berbohong sih. Diskusi itu juga menyajikan gorengan. Ya, gorengan! Udah cukuplah untuk anak kosan. Lalu uniknya, lama-kelamaan aku baru mengerti kenapa ia mengelabuiku. Gini, senior itu menipu karena berpandangan niat mahasiswa untuk diskusi kian menipis. Jadi kalau berkata jujur, dalam pikirannya terkalkulasikan kemungkinan bahwa aku akan menjawaban “tidak” (iya sih) atau alasan berangkai yang juga ingin mengatakan demikian. Alhasil, terbit alternative yang caranya destruktif. Destruktif? Hahahahahaha. Terakhir, kesan dan pesanku ditutup oleh mereka dengan, selamat tersesat dijalan yang benar.

Shit!!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s