Posted in Cerita

| Gelisah Dibalik Senja |

IMG_20180603_184350.jpg

Aku menatap horizon. Mengidentifikasi warna ke-orenan. Senja, aku menyebutnya. Itu sebutan saat gumpalan putih berada diantara siang dan malam. Aku menerimanya, bukan menamainya. Sebelumnya sesuatu itu telah dinamai. Dan saat ini aku belum ingin memberinya nama.

       Senja itu berada diatas dan balik bukit. Di bawah ada hamparan danau. Burung-burung mengepakkan sayap. Terbang. Bebas. Aku ingin!

      Ku seruput kopi dalam ruang berpapan. Kedai kopi. Sembari bercerita dengan penjual. Mata bak jendela hingga bekerja nilai estetik dari jiwa untuk mengakhiri dengan sebuah kata, indah. Alam yang memberi. 

       Lalu, pikir bekerja seperti mesin waktu. Mengingat rentetan satu persatu. Gelisah muncul. Untuk apa semua ini? Aku datang dengan sepeda motor. Sekitar 5 jam. Mencari tempat menginap. Sendiri. Mempersiapkan uang, alat rekam, dan data-data. Menyusun dan mencari data-data lagi. Data itu ingin menjadi cermin dari seonggok daging yang bergerak. Melelahkan.

     Sebelumnya, aku telah mengambil judul. Ku presentasikan masalah dari cara pandang teori-teori, yang jauh dari lokasiku. Teori yang ntah bagaimana disimpulkan sewaktu itu, ditempat berbeda. Lalu ingin kuuji dari tempat berbeda pula. Jika sinkron, maka teori itu ilmiah. Artinya teori dapat dibuktikan dimanapun dirinya ditempatkan. Itu logika yang menyimpulkan dari hal umum ke-khusus. Tradisi ke-ilmuan Inggris dan Perancis, setelah zaman pencerahan memberi terang. Tidak-tidak. Dalam riset ini, teori hanya alat bantu untuk menjabarkan. Membantu mengambil sudut, sehingga lebih sistematis dan terarah. Lebih ke tradisi German.

      Tradisi German, dari khusus ke umum. Artinya dalam ruang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Tidak perlu menguji teori, tapi menghasilkan teori. Sebuah anti-thesa dari yang awal. Untuk melakukannya perlu waktu sekiranya 6 bulanan. Ya, itu minimal. Tradisi ini yang ku pakai, tapi  dalam bentuk semi. Aku tidak punya daya untuk sampai selama itu. Berat. Lagian masih mau mencapai S1. So, tak perlu menghasilkan, setidaknya memahami metode. Epistemologinya. Itu sudut-sudut pandang khalayak umum. Terutama dari kaum tua yang sudah tamat. Sudah waktunya cepet menyelesaikan. Trus kerja. Motifnya tak lain untuk menghentikan penghisapan, atas “pemberi donor” sampai saat ini. Agar aku yang mendonor kemudian. Ya kudengarkan.

      Lanjut. Demi menjabarkan dan mencapai kesimpulan. Wawancara dan observasi dilakukan. Dokumen-dokumen dikumpulkan. Semuanya, dari materi itu. Ku lukis menjadi kata-kata dalam kertas putih. Layaknya cermin. Lalu kata itu akan diuji. Bukan fakta, tapi kata-kata. Apakah kata sesuai dengan judul? Apakah kata sudah menggambarkan materi? Atau apakah kata telah diterima oleh sipenguji?

        Lalu?

        Kata itu tenggelam dalam kertas. Terkurung. Kesimpulanpun hanyalah kata. Kata itu tidak menjadi materi lagi. Karena tidak memang dimaksudkan untuk itu.

        Lalu pembela datang. Bukan kata, melainkan cara untuk menyusun kata?

      Ku sahut. Lalu cara itu tenggelam dalam kepala. Lama-lama menua, trus lupa. Sesuatu datang dan lambat laun dilupakan. Kemudian hilang.

        Tanya kenapa?

      Karna memang instrumennya dimaksudkan bukan untuk menghasilkan ubah tapi sekam, sampah!

         Kemudian?

        Kuteguk kopiku. Habis. Tumbuh gelisah!

 

Advertisements

2 thoughts on “| Gelisah Dibalik Senja |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s