Blog

Posted in Puisi

| Rindu-Ku |

Rindu,
Memberi jejak saat kedua tangan saling menggenggam…
Rindu,
Memberi jarak saat dua insan ingin saling menatap…
Rindu,
Menghadirkan ingatan akan kisah indah yang menjadi kenangan…

Dengan tetesan air mengalir membasahi pipi…
Dengan isak mungil suara hati yang tersayati…
Dengan jantung yang tidak pernah berhenti untuk berdetak…
Dan menyembunyikan kerisauan di dalam diri…

Kapan kita dapat berjumpa lagi?
Melewati sunyinya sore, ditemani hembusan angin…
Berada di kursi pinggir taman…
Kita menatap danau yang diselimuti kehangatan…
Menggambarkan bilik hati yang sedang bertemu…
Mempersatukan merah dan kuning…
Berselimut senja di sore hari…

Tidak!
Rindu-Aku…

Advertisements
Posted in Puisi

| Aku dan Diriku |

Suara –suara itu melahirkanku…
Pikir-pikir itu membentukku…
Orang-orang itu adalah kaum tua duniaku…

Aku dengan namaku…
Bukanlah aku, karna penamaanku alih pikir orangtuaku…
Aku dengan agamaku…
Bukanlah aku, karna kepercayaan oleh ketidaktahuanku…
Aku dengan pikirku…
Bukanlah aku, karna otakku rekam pikir pendidikku…
Aku dengan perutku…
Bukanlah aku, karna peluh itu oleh penyayangku…

Gerak-gerikku oleh fana alam pikirku…
Pernyataanku hanya kata kosong dari langit-langit dunia ide ku…
Tidak!
Setidaknya ujung pena ini membantu menggoreskan kata-kataku…
Membentuknya menjadi sebuah kalimat, paragraf hingga menjadi gagasanku…
Gagasan tentang aku atas pikirku…
Akankah aku adalah diriku?
Atau diriku adalah aku?

15 juni 2016, 21: 18

Posted in Puisi

| Penghantar Risalah |

Apa yang harus kutuliskan pada kekosongan…
Jika tinta tak terisi oleh kenangan…
Apa yang harus kutuliskan pada keberadaan…
Jika hidup tidak terisi oleh kebersamaan…

Pada langit-langit yang menghitam oleh gelapnya malam…
Sampaikan pada rembulan untuk tidak tenggelam…
Agar pagi tidak mengusik mimpi…
Satu-satunya ruang menuangkan ingin yang tak jadi…

Tapi,
Aku mulai bertanya-tanya…

Kenapa aku harus berkata-kata…
Jika engkau tidak lagi mendengar?
Kenapa aku harus mengungkap rasa…
Jika hanya menghasilkan gusar?

Tidak!
Inginku tetap berkata-kata…

Lantas,
Inikah cinta?

Posted in Cerita

| Gelisah Dibalik Senja |

IMG_20180603_184350.jpg

Aku menatap horizon. Mengidentifikasi warna ke-orenan. Senja, aku menyebutnya. Itu sebutan saat gumpalan putih berada diantara siang dan malam. Aku menerimanya, bukan menamainya. Sebelumnya sesuatu itu telah dinamai. Dan saat ini aku belum ingin memberinya nama.

       Senja itu berada diatas dan balik bukit. Di bawah ada hamparan danau. Burung-burung mengepakkan sayap. Terbang. Bebas. Aku ingin!

      Ku seruput kopi dalam ruang berpapan. Kedai kopi. Sembari bercerita dengan penjual. Mata bak jendela hingga bekerja nilai estetik dari jiwa untuk mengakhiri dengan sebuah kata, indah. Alam yang memberi. 

       Lalu, pikir bekerja seperti mesin waktu. Mengingat rentetan satu persatu. Gelisah muncul. Untuk apa semua ini? Aku datang dengan sepeda motor. Sekitar 5 jam. Mencari tempat menginap. Sendiri. Mempersiapkan uang, alat rekam, dan data-data. Menyusun dan mencari data-data lagi. Data itu ingin menjadi cermin dari seonggok daging yang bergerak. Melelahkan.

     Sebelumnya, aku telah mengambil judul. Ku presentasikan masalah dari cara pandang teori-teori, yang jauh dari lokasiku. Teori yang ntah bagaimana disimpulkan sewaktu itu, ditempat berbeda. Lalu ingin kuuji dari tempat berbeda pula. Jika sinkron, maka teori itu ilmiah. Artinya teori dapat dibuktikan dimanapun dirinya ditempatkan. Itu logika yang menyimpulkan dari hal umum ke-khusus. Tradisi ke-ilmuan Inggris dan Perancis, setelah zaman pencerahan memberi terang. Tidak-tidak. Dalam riset ini, teori hanya alat bantu untuk menjabarkan. Membantu mengambil sudut, sehingga lebih sistematis dan terarah. Lebih ke tradisi German.

      Tradisi German, dari khusus ke umum. Artinya dalam ruang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Tidak perlu menguji teori, tapi menghasilkan teori. Sebuah anti-thesa dari yang awal. Untuk melakukannya perlu waktu sekiranya 6 bulanan. Ya, itu minimal. Tradisi ini yang ku pakai, tapi  dalam bentuk semi. Aku tidak punya daya untuk sampai selama itu. Berat. Lagian masih mau mencapai S1. So, tak perlu menghasilkan, setidaknya memahami metode. Epistemologinya. Itu sudut-sudut pandang khalayak umum. Terutama dari kaum tua yang sudah tamat. Sudah waktunya cepet menyelesaikan. Trus kerja. Motifnya tak lain untuk menghentikan penghisapan, atas “pemberi donor” sampai saat ini. Agar aku yang mendonor kemudian. Ya kudengarkan.

      Lanjut. Demi menjabarkan dan mencapai kesimpulan. Wawancara dan observasi dilakukan. Dokumen-dokumen dikumpulkan. Semuanya, dari materi itu. Ku lukis menjadi kata-kata dalam kertas putih. Layaknya cermin. Lalu kata itu akan diuji. Bukan fakta, tapi kata-kata. Apakah kata sesuai dengan judul? Apakah kata sudah menggambarkan materi? Atau apakah kata telah diterima oleh sipenguji?

        Lalu?

        Kata itu tenggelam dalam kertas. Terkurung. Kesimpulanpun hanyalah kata. Kata itu tidak menjadi materi lagi. Karena tidak memang dimaksudkan untuk itu.

        Lalu pembela datang. Bukan kata, melainkan cara untuk menyusun kata?

      Ku sahut. Lalu cara itu tenggelam dalam kepala. Lama-lama menua, trus lupa. Sesuatu datang dan lambat laun dilupakan. Kemudian hilang.

        Tanya kenapa?

      Karna memang instrumennya dimaksudkan bukan untuk menghasilkan ubah tapi sekam, sampah!

         Kemudian?

        Kuteguk kopiku. Habis. Tumbuh gelisah!

 

Posted in Cerita

| Panta Rhei |

Oleh : Tohi

Kira-kira tahun 2013 silam, saat pertama kali aku  mulai mengikuti diskusi ala mahasiswa dalam sebuah komunitas di Medan. Tersajikan percakapan menarik dengan topik aktual permasalahan di kampus. Moment itu dimulai dari pukul lima sore. Aku diajak oleh seorang perempuan. Ia seniorku. Awal-awal mengatakan ada acara makan-makan. Sampai ditempat. Eh, rupanya ada diskusi. Aku merasa tertipu. Dikelabui untuk kepentingannya. Hmp, lambat laun aku mengerti, lebih tepat  mengatakan demi kepentingan komunitas.

            Aku telat kira-kira satu jam. Sewaktu memasuki pintu, kerumunan itu terlihat sedang berkonsentrasi, hanya sedikit menoleh padaku. Itupun hanya sesaat. Gila! Serius amat pikirku.  Aku duduk tepat disamping seniorku. Didepan hadapanku seseorang sedang menjelaskan. Ya, mirip-mirip orang sedang presentase. Aku terkesima. Ada seorang mahasiswa yang ingin presentasi tanpa imbalan apapun! Bahkan itu bukan tuntutan dari mata kuliah. Hahaha, antik nih. Kalau dikelas-kelas perkuliahan bisanya mah orang menghindar untuk melakukan presentase, kalaupun jadi, ya terpaksa demi nilai! Eh, disini terbalik. Aku mulai bertanya-tanya dalam pikirku.

          Orang yang sedang menjelaskan disebut pemateri. Setelah menjelaskan, moderator mulai mengambil alih percakapan. “Baiklah, kita mengalir aja ya”, sepenggal ucapan. “Dari kiri kekanan ya”, sambungnya. Itu sebuah komando. Setelah itu orang per-orang (kiri ke kanan) mengucapkan pandangannya terkait topik yang sedang diulas. Aku mulai menyiapkan kata-kataku. Tapi tidak berhasil. Aku tidak mengerti, aku gagap. Sampai pada giliranku. Aku tersenyum, cengegesan. Aku menggeleng. Tanda ketidakmampuan! Sedikit malu sih, tapi yasudahlah.

            Diskusi berlangsung seru. Pertanyaan terus diajukan untuk menjabarkan sampai sesederhana mungkin atas penjelasan. Sanggah menyanggah dengan argumentasi masing-masing berlangsung alot. Teori beserta analisis yang amat lekat dengan pendekatan sejarah di perbincangkan. Asik! Seketika aku merasa bodoh. Tidak mengetahui apa-apa. Iri mulai menyelimuti. Motivasi ingin menjadi orang-orang yang mampu berbicara seperti didepan hadapan tumbuh beriringan.

           Sekitar pukul tujuh malam, perbincangan mulai di dikerucutkan. Terakhir, sebagai orang yang baru mengikuti diskusi. Aku diminta memberikan kesan dan pesan atas perjumpaan hari itu. Selesai. ***

      Cerita diatas adalah sebuah pengalaman pribadi yang tentu berbekas bagiku. Moment pertama yang menjadi awal cerita panjang hingga saat ini. Ya, aku menjadi pengurus komunitas itu kini.

            Lantas apa kaitan dengan judul tulisan yang ntah dari bahasa apa itu, “Panta Rei”. Hahahha, jadi begini. Baru-baru ini aku membaca buku “Potret Siapakah Aku”, karya Protasius Hardono Hadi. Buku ini membahas sebuah proses pencarian jati diri. Untuk melampiaskan nafsu membaca, aku nikmati kata-kata dalam lembar demi lembar. Hingga aku  jumpa kembali pada kata itu. “Kembali?” Ya sebelumnya aku pernah menemukan kata ini di buku yang lain, yakni “Pengantar Filsafat Barat”, karya Bertens. Aku suka pada pandangan ini. Lebih maju, aku sependapat!

        Kata ini mengandung arti, segalanya mengalir. Kata ini diucapkan oleh seorang filsuf yang bernama Herakleitos. Ia seorang filsuf yang lahir dari keluarga di Efesus, saat itu masih berada di abad sebelum masehi. Lebih lanjut ia menerangkan, di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang dapat dikatakan tetap. Semua mengalami perubahan, muncul keberadaan, berkembang menjadi lebih utuh, dan mati dalam kebinasaan. Jelasnya,  Panta Rhei Kai Uden Menei, “Semua mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap”. Kala itu ia menjadi Filsuf yang bertentangan dengan Parmenides yang memandang semuanya adalah tetap. Perubahan yang terjadi hanyalah semu, terangnya.

       Heraklitos sangat mengilhami sebuah “perubahan” adalah sesuatu yang nyata. Adapun materi tidak ada yang betul-betul ada (dalam arti tetap), semuanya dalam proses menjadi. Dan didalam proses itu terjadi pertentangan. Sampai-sampai ia memaknai, perang (pertentangan) adalah bapak segala sesuatu. Misalnya adanya terang dan gelap, baik dan buruk, dll. Bayangkan kalau hidup ini hanya diisi oleh baik aja gitu. Kan flat! Atau nyatanya ada gak orang yang sejak lahir sampai mati hidupnya baik atau buruk aja gitu? Pasti selang seling. Tidak menetap pada salah satu. Itu tandanya perubahan terjadi dan pertentangan juga berjalan mengisi.

        Lantas apa hubungannya dengan cerita diatas? ketika mencoba untuk mencocokkan ide Herakleitos dengan pengalamanku, aku bayangkan dan dapat point kira-kira begini. Andaikan setelah pemateri menjelaskan moderator tidak mengucapkan, mengalir. Bisa jadi pemateri terus berbicara. Terakhir kayak khotbah deh. Kan bosen banget. Terus seolah olah apa yang dikatakan itu benar tanpa sebuah proses tanya-jawab yang berjalan. Lantas, apakah layak kita namai itu diskusi? Ya meskipun dimaksudkan untuk demikian. Secara mendasar, diskusi dapat diartikan sebagai proses bertukar pikiran. Didalam proses ada tanya jawab hingga silang pendapat. Tentu tugas moderator untuk menyimpulkan.

      So, tanpa dimulai dengan kata, mengalir. Diskusi akan keropos. Hampa. Kalo pengurus saat itu bilang tidak hidup. Tentu dalam hal ini diperlukan partisipasi dari peserta diskusi juga untuk mengaktifkan diri dalam berargumen. Dengan begitu pertentangan atau nama kerennya dialektika dapat menghidupkan diskusi. Lantas dimana letak perubahannya? Tentu banyak hal, misalnya cara pandang dan keberanian untuk mengucapkan kata. Tentu semakin giat diskusi, cara padang lebih luas dan sistematis selain itu keberanian dalam mengutarakan pendapat semakin kuat dan enjoy. Tak hanya itu sih, tak jarang juga cara pandang yang lebih luas juga berdampak pada cara menjalani hidup. Jadi dampak nyata banget.tapi paling utama ialah alur diskusi yang lebih kaya, sepersekian detik argumentasi tiada yang menetap. Terus diuji oleh tanya-tanya yang tentu buat rasa skeptis muncul, atau sebaliknya makin memperkokoh/melengkapi.

          Ringkasnya, aku akan memandang diskusi lebih hidup jika slogan Panta Rhei Kai Uden Menei, berada dalam pandangan kita. Ntah moderator sadar atau tidak kata mengalir yang di ucapkan punya makna yang dalam jika dikaitkan dengan pandangan si Herakleitos. Artinya segala sesuatu pasti berubah dan kita menginginkan suatu perubahan terjadi segala hal kearah yang lebih baik. Tentu dengan melewati pertentangan demi pertentangan. Diskusi tidaklah sebatas percakapan biasa, melainkan proses mengasah diri untuk menjadi lebih tajam. Lalu siapa yang mau ditusuk? Hahahahah, jawab aja sendiri! Udah ah, pokoknya dibalik kata mengalir mengandung perubahan! Dan makna “mengalir” dalam diskusi menyimpan daya itu! Oleh karena itu budayakan diskusi. hehehehe

      Oia, soal seniorku itu tadi tidak sepenuhnya berbohong sih. Diskusi itu juga menyajikan gorengan. Ya, gorengan! Udah cukuplah untuk anak kosan. Lalu uniknya, lama-kelamaan aku baru mengerti kenapa ia mengelabuiku. Gini, senior itu menipu karena berpandangan niat mahasiswa untuk diskusi kian menipis. Jadi kalau berkata jujur, dalam pikirannya terkalkulasikan kemungkinan bahwa aku akan menjawaban “tidak” (iya sih) atau alasan berangkai yang juga ingin mengatakan demikian. Alhasil, terbit alternative yang caranya destruktif. Destruktif? Hahahahahaha. Terakhir, kesan dan pesanku ditutup oleh mereka dengan, selamat tersesat dijalan yang benar.

Shit!!

 

Posted in Ulasan Buku

Ulasan Buku Larasati

Ulasan Buku Larasati

Karya : Pramoerdya Ananta Toer

Oleh : Tohi

Hasil gambar untuk buku larasati

       Sederet kata dibalik sampul, ada gambar sang penulis sastra yang karyanya menaruh ancaman bagi sebuah rezim penuh kebengisan. Disamping, ada sepenggal kalimat, Kalau mati, dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau berani tidak ada, itulah setiap bangsa asing bisa jajah kita, mengandung makna yang memiliki spirit kuat. Mungkin secara umum, apalagi dari kalangan akademisi untuk menguraikan asal muasal negeri ini terjajah akan masuk pada soal-soal ekonomi-politik yang menuntut sebuah logika ilmiah. Rumit bukan? Tapi dalam novel 178 halaman ini, memberi kesederhanaan dalam memahami salah satu soal dasar yakni keberanian sebagai kekuatan mentalitas yang menjelma jadi problematika alot dalam cerita. Dalam teks menuturkan bahwa Berani lahir atas keistimewaan ataupun konsekuensi logis jika ingin membumikan diri dari ide kemerdekaan. Alhasil kata jajah akan terkubur dalam dari bumi pertiwi dengan melancarkan revolusi dalam pekik dan tindak. Gimana, sulit gak untuk merdeka?

        Larasati dalam novel ini memberi gambaran saat suasana kemerdekaan kian masih berumur muda, mengambil rupa sebagai tokoh aktris paling ternama sewaktu itu. Tokoh ini berperan sebagai pendukung republik dalam kancah perang yang tak hanya melawan Belanda melainkan kaum bangsanya sendiri. Sungguh menjadi problem pelik untuk ditembus dalam mewujudkan revolusi. Kau harus melawan saudaramu sendiri yang juga ditindih derita. Apalagi menyadari dengan baik alas memilih menjadi serdadu Belanda terkadang ialah pilihan antara memberlangsungkan hidup agar tak mati diterjang peluru koloni. Kondisi demikianlah membuat pilu sosok perempuan yang berangkat dari Yogyakarta untuk menjumpai Ibunya di Jakarta.

        Dalam perjalanannya, banyak hal yang membuat hatinya teriris. Terutama ketika melihat sesama  bangsa saling membunuh demi mempertahankan kekuasaan masing-masing. Tembak-menembak, tusuk-menusuk, hingga siksa perlahan berujung nafas ditelan oleh senjata tajam, berlangsung sangat buas. Saling curiga pun tak terelakkan antar pendukung Nica ataupun republik. Jakarta yang waktu itu sebagai pusat kekuasaan Nica, membuat langkah-langkah Larasati kian berliku. Terlebih lagi saat melewati perbatasan. Dipertanyakan sebagai pendukung republik yang berujung pada siksaan tak membuat padam cintanya pada revolusi. Ia begitu ingin revolusi hadir meski nyawa menjadi imbalannya.

        Beruntung ia seorang artis ternama hingga dapat lewat dari siksaan para serdadu saat memasuki wilayah perbatasan dan pusat. Meski begitu, saat seorang inlander mencoba menyerangnya, ia tak gentar untuk terus melawan. Suatu waktu ada seorang yang namanya Mardjohan seorang sutradara film, memintanya menjadi artisnya. Namun ditolak mentah-mentah. Tak sampai disitu saja, bahkan sang kolonel juga mencoba membujuknya, tetap hanya berakhir pada perdebatan. Ia bahkan tidak takut untuk terus membantah anggapan mereka yang mengutarakan diri berada di jalan perjuangan yang benar. Membujuk untuk menjadi sekutu dengan tawaran bintang film saat itu menjadi tawaran sexy, apalagi banyarannya yang besar. Tapi ia tetap menolak! Dalam pikirnya jika ia bersekutu, maka sia-sia kematian pemuda-pemuda yang saat itu kian belia, bayangkan saja mereka yang masih berumur 14 tahun sudah menjadi pemimpin untuk melancarkan serangan ke pihak musuh. Pedang, bambu, senjata curian  jadi alat untuk melawan meriam mesin dan senjata api dari serdadu Belanda. Parahnya, hal itu bercampur oleh rasa lapar dengan tubuh kurus berselimut pakaian yang amat lusuh. Tanda perjuangan diatas penderitaan yang dahsyat.

        Ada kondisi ketika itu Larasati ikut dalam sebuah perang yang dilakukan pemuda tempat ibunya tinggal. Dalam suasana perang, sang pemimpin terus bertanya kepadanya, apakah kamu takut?awal-awal tubuhnya mengigil, ia gemetar. “Kau dengar suara tangisan anak-anak itu? Untuk itulah kita berjuang!” jelas sang pengatur serangan yang akhirnya mati karena tertembak perutnya. Nyata, pernyataan itu membuatnya tersentak, hingga sedih sejadi-jadinya. Tekadnya semakin bulat, ia tidak akan pernah berbelot! Ia tetap menjadi seorang yang dingin terhadap segala penentang republik. Ya, dia pemberani, meski rentan tubuhnya menjadi pemuas nafsu para pelacur kuasa. Wah, pembaca akan sangat emosional!

        Membaca novel ini, membangun kesadaran akan peliknya awal-awal membangun negeri. Darah demi darah tercucur, mematikan diri untuk tindak yang lebih luhur. Pemuda berada di barisan terdepan, jatuh satu persatu dimedan perang. Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat revolusi! Sebuah pernyataan yang bersemayam dari rasa kesal Larasati melihat orang semacam kolonel dan mardjohan yang menghasutnya untuk bersekutu. Mengapa dunia ini begini penuh iga busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejahtera dari pada yang lain? Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain Alangkah sia-sia pendidikan orang tua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah, pekik kecewa larasati. Semua berasal pada rasa takut, terutama atas kematian hingga ketidak berdayaan terhadap kuasa. Mereka yang mengangkat senjata sejak dini, bukan tidak punya rasa takut tapi mencoba untuk mematikannya. Demi apa? Sederhana, hidup era ini ialah buahnya!

        lantas apakah kita yang hidup diabad 21 ini telah berupaya seperti Larasati, juga pemuda yang rela mati? Ditengah gelombang peradaban yang kian surut bak air WC yang berujung pada muara kotoran? Menjadi sebuah pertanyaan menohok untuk dijawab pada ibu pertiwi. Saat ini,  korupsi kian massif merajalela, kaum terdidik kian diam, adapun bersuara kecil yang membentur kuasa, disumbat dengan cara-cara yang kotor. Dari kasus e-KTP, perseteruan pengusaha vs rakyat kecil, proyek infrastruktur berbasis pilu-derita, hingga pesta demokrasi yang menghabiskan dana triluyunan, tapi menghasilkan pe-mimpi-n sejak dini berpolitik praksis dengan politik SARA yang memecah belah bangsa, dan lain-lain. Membuat kita harus kembali merenung dan bertanya-tanya, untuk apa negeri ini dibentuk?

        Huah, sangat layak untuk dibaca bagi yang ingin mengenal kata berani dalam suasana awal negeri ini dibangun. Bdw, cara buku ini bertutur sangat asik, terlebih dalam menggambarkan suasana dan konflik, sangat emosional. Ya, begitulah kira-kira. Selamat menikmati. Salam…

Posted in Ulasan Buku

Catatan Juang

Ulasan Buku Catatan Juang

Karya : Fiersa Besari

Oleh : Tohi

IMG_20180328_231954_HDR.jpg

 

Beberapa hari lalu, buku ini dipegang oleh salah seorang gadis yang aktif pada salah satu Ormawa di Medan. Awalnya aku tidak tertarik, tapi suatu waktu dalam kolom histori Instagram berjalan, banyak kawanku yang memetik kata-kata mutiara sambil mencantumkan buku ini. Hmp, membuatku penasaran. Hingga suatu hari, aku sedang tertarik untuk mencari salah satu buku Anderson yang berjudul, Hidup Diluar Tempurung, di lapak buku murah sekitar lapangan Merdeka. Asik berputar-putar melihat beragam bacaan, buku ini terlintas dari mata dengan harga 35 ribu. Sempat berpikir panjang, tapi karena tidak mendapatkan buku yang kuinginkan, aku membelinya dengan harga 30 ribu, sekaligus ingin menuntaskan rasa penasaranku hahaha.

“Konspirasi Alam Semesta”, sepenggal kata di altar buku ini yang membuatku tertarik untuk menelisik isinya. Dalam khayalku, isinya mungkin menjurus pada pembuktian bahwa hidup ialah sesuatu yang sudah diatur oleh alam. Konsekuensinya jelas, bahwa tiap materi yang bergerak akan menjadi unsur-unsur pengatur dalam alam semesta. Itu artinya ada sebuah hukum saling keterkaitan dalam hidup. Ahay! Mirip salah satu pesan yang juga kudapat sehabis menonton film Rectoverso, bahwa tiap langkah yang kita jalani saling terkait dengan langkah lainnya. Kembali ke buku, dengan judul Catatan Juang, berpadu warna merah ke-orenan, serasa sebuah bacaan anak gerakan. Dan terakhir, dengan harga yang cukup sesuai isi kantong, maka aku putuskan untuk membelinya.

Tidak sampai tiga hari, buku ini siap kubaca. Harus kuakui, aku menikmati tiap kata yang tersusun dan bercerita ria tentang seorang anak gadis bernama Suar. Diawal tokoh ini digambarkan sebagai seorang manusia yang terjerumus pada sistem industri. Ia bekerja sebagai sales asuransi, meski sewaktu kuliah menjadi Sineas ialah impiannya. Mengambil keputusan untuk keluar dari kantor dan beralih mulai mengejar mimpi, menjadi sebuah awal dinamika dalam cerita. Tentu bukan pula terjadi begitu saja, ada sebuah dorongan yang timbul dari seengok buku cacatan seseorang yang jatuh diangkutan umum. Buku itu membungkus sebuah rasa gelisah yang inheren dengan kehidupannya. Kegelisahan yang menumpuk akhirnya mengeluarkan gadis abad modern itu keluar dari zona nyamannya. Dari hidup hanya untuk kebutuhan menjadi hidup untuk mewujudkan keinginan (seni).

Setelah itu, sang tokoh mulai membuka pintu petualangannya dan mengawali langkah kakinya untuk membuat sebuah dokumenter tentang polemik berdirinya sebuah perusahaan Semen di desa utara tempat ia tinggal. Sukses dengan film yang diberi judul “ekonomi merusak ekosistem”. Membuatnya semakin bergairah, meski penuh dengan tantangan. Kemudian berlanjut untuk membuat sebuah film tentang Marsinah, seorang buruh perempuan yang mati karena menentang kekuasaan masa orde baru. Hingga diakhir cerita, ia ingin membuat film tentang penulis buku catatan  Juang, yang menuntunnya untuk berjalan diluar kotak. Tidak hanya sendiri, ia juga dibantu oleh rekan-rekannya, yakni Ely dan Fajar. Dan sebagai pemberi spirit ada Dude (pacar Suar), ayah, ibu, dan adik Suar yang selalu mendukung dari belakang. Jadi, Suar tak digambarkan sebagai seorang superman, melainkan ia berada dalam pusaran superteam yang konsisten dan memiliki jiwa kemanusiaan.

Jika berbicara apa pesan yang ingin disampaikan buku ini, secara subjektif sangat banyak dan juga menggambarkan sebuah kegelisahan anak muda era sekarang. Kecenderungan hidup dibawah tekanan sebuah sistem yang menyesakkan sehingga membuat seseorang merasa terasing dari diri sendiri. Tandanya cukup kontras ketika Suar yang jenuh dimarahi atasannya karena kinerjanya yang merosot. Padahal sebelumnya ia salah satu pegawai terbaik dikantornya. Setelah ia beralih menjadi apa yang dimimpikan, gamblang rasa petualangnya kian mengalir, tidak stastis melainkan penuh dinamika. Ia tidak lagi hidup ala kadarnya, melainkan membuat sebuah perubahan nyata melalui karya. Hal tersebut tampak dari dihentikannya aktivitas perusahaan semen didekat desanya setelah film dokumenternya laris di medsos.

Selain itu, pembaca akan berjumpa pula pada perspektif mengenai cinta yang lebih universal. Adapun sentuhan gagasan kemanusiaan terselip tiap pesan yang disampaikan dalam cacatan juang yang dibaca oleh Suar. Jika dikuras, maka aku sebagai pembaca menyimpulkan buku ini ingin memberi pesan agar kita berupaya untuk memberi arti pada hidup dan berdampak baik kepada sesama. Tidak semata-mata hanya ingin bahagia dengan mengejar kekayaan yang begitu fana melalui tumpukan uang kertas. Cocok banget dengan realitas kehidupan saat ini kan? Hahahaha. Bukankah memupuk peradaban jauh lebih berarti? Meski harus merenggut nyawa? Bukankah ini tanggungjawab seorang yang manusiawi?

Sebagai bahan refleksi sekaligus praktis, susunan cerita dalam naskah ini sangat menghidupkan. Secara diam-diam yang kutangkap, ada anjuran penulis kepada pembaca untuk segera giat untuk menulis. Kenapa? Jikalau rekan-rekan sudah membaca buku ini, bayangkan kalau si Juang tidak menulis? Tentu si Suar akan tetap terjebak dalam sistem yang membelenggu, kehidupan didesanya juga akan tergerus oleh perusahan yang tidak memperdulikan lingkungan. Seketika hanya dengan tulisan, daya ubah tercipta, katakannlah tulisan tersebut telah menumbuhkan spirit dan Suar mematerialkannya menjadi perubahan. Dan itu terjadi ketika sang penulis telah pergi meninggalkan bumi. Keren! Ia tidak lagi hidup tapi gagasannya hidup dibumi!

So, buku ini sangat bagus dibaca terutama oleh kalangan muda di Indonesia. Apalagi buat yang mau tamat kuliah, tepat sebagai bahan renungan untuk masuk ke dunia kerja. Ataupun yang sudah kerja, tapi tidak menikmatinya. Lembar novel ini sangat memberikan pencerahan untuk menghidupkan hidup. Berdinamika, bukan seperti robot yang mekanistik. Sebagai seorang pembaca, misteri siapa penulis buku catatan terebut tidak hanya mengandung rasa penasaran bagi si Suar melainkan aku juga. Itu point plus bagi buku ini, sehingga merangsang untuk terus menerus membaca. Selain itu kata yang digunakan juga sangat mudah dicerna. Terakhir, endingnya tidak tertebak dan pas, good job buat Fiersa Besari, hahahah.