Blog

Posted in Cerita

| Epistemologi “Lubang” |

Oleh : Tohi

Pertama, Suatu waktu si A diberi tahu oleh B bahwa jarak 2 meter dari tempatnya berdiri ada sebuah lubang. Lalu, timbul pengetahuan pada si A dan melewati lubang tersebut tanpa harus tergelincir ke dalamnya. Sebutlah itu sebagai pengetahuan X.

        Karena Si A pada akhirnya tidak tergelincir, maka ia pengetahuan itu tepat adanya. Lantas bagaimana jika si B keliru atau berbohong. Potensi besar pengetahuan itu akan membawa si A malah kedalam lubang. Dan bagaimana pula bila si A memilih tidak berjalan, pulang, ataupun memilih jalan lain. Lalu, informasi keliru itu, disampaikan A kepada si C yang berada dalam posisi yang sama.

        Setelah si C pada akhirnya tergelincir pada lubang. Pada akhirnya “pengetahuan” itu menjadi objek untuk di caci dan tentu juga pada pada pemberi pengetahuan tersebut, si B dan si A. Berantamlah mereka. Lalu si D bertanya, sebagai seorang pengamat. Siapa yang keliru?

Kedua, Suatu waktu si A tidak tergelincir ke dalam lubang yang berada 2 meter dari tempatnya berdiri karena sebelumnya ia telah tergelincir ke dalam lubang. Rasa sakit membuatnya tidak ingin terjebak untuk ke dua kalinya. Sebutlah itu pengetahuan Y.

Dalam hal ini, lubang adalah hal dapat di tangkap oleh Indera.

       Lalu, bila lubang itu bukanlah hal yang dapat ditangkap oleh Indera oleh karena keterbatasan. Layaknya mata yang mencoba melihat pesawat terbang dari berukuran besar oleh karena jarak yang dekat dari mata. Hingga menjadi kecil, lambat laun hilang dari pandangan. Bukan berarti pesawat itu tidaklah ada.

       Lantas bagaimana bila lubang itu tidak lagi dapat ditangkap oleh indera?

Ketiga, si B menjelaskan kepada A bahwa dulu ada lubang tepat 2 meter ditempat ia berdiri. Lalu A menerima. Lalu, terkait dengan lubang, ternyata si C menjelaskan hal berbeda dengan si E. Dan si E menerima, bahwa lubang itu bukan 2 meter dari posisi si B tadi, melainkan 3 meter.

       Kemudian si A dan si E bertengkar, menyalahkan satu sama lain. Terburuk, darah tertumpah.  Sebutlah itu pengetahuan Z. Lalu si D bertanya, apa yang ganjil?

Keempat, si A mendengar penjelasan si B, bahwa, dahulu, 2 meter tepat dari tempat ia berdiri terdapat lubang. Lalu si A mencari tahu tentang lubang itu dan mendapatinya, ntah itu berbeda ataupun sama dengan si A. Sebutlah itu pengetahuan O.

Hmp,

Lalu, si L berpikir “lewat” dari hal-hal “kekakuan” atau “kebakuan”. Ia bilang, itu bohong! Siapa yang buat menghadirkan 4 hal itu? Palsu, Palsu, Palsu!!! Bagaimana mungkin hal yang terbatas mau mengungkap hal yang tidak terbatas?

What?

Advertisements
Posted in Cerita

| Fajar dan Surya |

   Oleh : Tohi

        Sinar surya sang terang menembus pori-pori kulit hingga keringat tercucur membasahi kening air muka. Dua insan gadis setengah baya berjalan menuju kelas perkuliahan. Fajar dan Surya ibarat air dan tanah yang melengkapi satu sama lain. Mereka diikat oleh persahabatan yang begitu kental sejak kecil, suka duka telah ditapaki bersama-sama. Meski latar belakang ekonomi berbeda namun kini ikatan terus membatin sebagai bukti perjalanan panjang yang telah dilalui hingga suatu saat ujian mulai menghampiri ikatan keduanya.

        “Tak terasa sudah semester 6 saja kita ya Jar” dengan nafas tergesah-gesah Surya berkata.

        “Ia Sur, serasa baru beberapa hari lalu kita menginjak tanah kampus hijau ini”, sambil menatap langit menyaksikan seekor burung yang terbang bebas di udara. “Huh, ayok cepat! Kau ketua panitia, kita rapat PKL (Praktik Kerja Lapangan) hari ini jangan sampai telat!” sambung Fajar.

          “Ah, tenang saja, toh bapak itu sering telat”

         “Meski begitu kita harus hormat atas kesepakatan! Apakah kau ingin sama dengan orang yang melanggar kesepakatan? Sungguh akan sia-sia apa yang kita perlajari selama ini!”

      “Sok idealis banget lu. Hati-hati jadi idealisness!” sindir dengan tatapan meledek.

        “Hahahaha, bukankah idelisme adalah keistimewaan sebagai mahasiswa?” dengan seyum genit di sertai tawa girang penuh keceriaan.

***

        Suara riuh bisik-bisik kecil dalam ruang begitu mencuat. Kedua sejoli itupun masuk kedalam kelas. Surya adalah sosok yang cukup dihormati. Ketika langkah kakinya mulai menghampiri pintu, bisik-bisik lambat laun mulai redam. Mereka duduk kursi bagian terdepan seperti biasa. Selang beberapa menit langkah sepatu hitam memasuki mimbar panggung dan berdiri tepat di depan hadapan para calon sarjana muda. Raut wajah mahasiswa mengerut tanda suasana serius mulai memasuki babak awal hari ini. Dengan gagah langkah kaki Surya maju dan rapat dimulai.

        Rapat berjalan bak air yang mengalir. Tiap-tiap orang setuju dengan putusan namun ketika masuk pada bahasan pungutan biaya dari mahasiswa, sentuhan ombak mulai muncul.

        “Tidak! Saya tidak setuju jika pungutan ini dilakukan” sentak Fajar dengan tegas memecah keheningan. Sejenak kebisuan menghampiri. Bulu-bulu mulai menaik layak putri malu mulai merasakan sentuhan. “Mengapa kami harus membayar? Bukankah sistem mengatakan pungutan ini tidak dibenarkan?” lanjutnya dengan lantang.

      Pada dasar mahasiswa yang berada didalam kelas tahu bahwa apa yang diminta dosen tersebut menyalahi aturan yang ada. Seminggu lalu juga mereka telah sepakat untuk membantah ini. Namun yang tampak tidak demikian. Hal ini membuatnya kesal termasuk kepada Surya. Meski akal telah bersepakat ternyata hati tidak demikian. Rasa takut mulai menghampiri teman-teman sebayanya.

     Perdebatan begitu panas. Beragam alasan keluar dari mulut sang dosen namun di susul dengan perlawanan yang tak berhenti pula. Berawal adu argument, tak jarang terpojok, jatuh pada sentimen. “Kalo memang kau tetap ngotot, ya sudah! Kita tidak usah PKL!” nada ancaman tajam mulai keluar. Hati mulai bergetar, akal mulai tumpul. Fajar berhenti berbicara. Suasana kelas diam. Hening. Mata dosen melotot tepat di hadapannya. Tak ingin takhluk, tatapan tajam penuh emosi terpancar membalas.

        “Ya sudah, saya muak! Surya jumpai saya jika kalian sudah satu suara, kalo tidak kita tidak usah PKL” langkah dosen meninggalkan ruangan. Bisik-bisik mulai mengusik. Tatapan-tatapan tajam mulai meneror Fajar. “Hoalah, kenapa harus jadi pengacau!”. Pekik-pekik sindiran mulai bunyi ditengah keramaian. Ia tunduk bisu dan tak bergerak. Langkah-langkah kaki satu persatu menginggalkan ruangan.

      Tersisa hanya tinggal mereka dikelas. Dengan wajah yang cukup kesal ia menghamipiri. “Sudah kubilang jangan terlalu idealis!” sentak Surya.

      “Idealis? Aku hanya mengatakan apa yang menjadi kesepakatan kita dan aturan yang ada!” Ia mulai mengangkat kepalanya dengan tatapan yang memancarkan emosi.

     “Tidakkah kau seharusnya sudah memahami Jar! Hati bisa mengalahkan pikiran! Benar kita sepakat dengan ini tapi apakah hati kita sudah seperti baja mampu melawan dosen seperti itu? Coba kau perhatikan mimik wajah rekan kita tadi. Tidak kau dapat menangkap ketakutan pada mereka? Terlebih pada ancaman itu, apakah mimik wajah itu tidak mengajarkanmu akan kecemasan dari teman yang lain? Kau tidak dapat melawan sendirian!”.

      “Benar, benar yang kau katakan! Bahkan aku juga melihat wajah itu pada dirimu! Dasar pecundang! Jika hal sekecil ini saja tidak dapat kita lawan apalagi hal besar nantinya. Akankah kebenaran berubah jadi kesalahan ketika rasa takut sebagai dalang pembelotan? Tidak! Dan kau telah mendiamkan apa yang seharusnya. Aku kecewa padamu!”.

     “Pecundang katamu? Bukankah orang yang terlalu membawa ego besarlah pecundang? Kau tak memahami kondisi! Apakah kau mau mengorbankan perasaan rekan-rekanmu yang lain demi keegoisanmu itu? Tidakkah kau memikirkan ketakutan akan hari kedepan jika hanya karna persoalan kecil ini mengagalkan perkuliahan kita? Tidakkah kau menghormati mereka yang menjaga perasaan orang tua mereka? Kau pasti memahami ini! Lantas kenapa engkau melakukan tindakan konyol seperti tadi! Kenapa kau ingin jadi pemberontak di kelas ini! Tidak kah kau menghormati aku pula!”

      “Kau bilang aku ego? Konyol? Bukankah kata-kata itu seharusnya kutujukan pada kalian para penghianat! Bulshit! Aku tidak akan menghamba padamu! Aku hanya akan menghamba pada kebenaran. Apakah kau juga tidak memahamiku? Ayahku seorang buruh dan ibuku pembantu rumah tangga! Aku tergolong miskin diantara kalian dan kalian meminta aku untuk memahami kehidupan kalian? Sekali lagi apakah aku konyol bertindak seperti ini!!! Bagi kalian hidup sebuah kebahagiaan. Kalian serba kecukupan. Namun tidak bagiku! Hidup hanyalah jejak-jejak penderitaan dan itu harus kujadikan sebagai kebahagiaan agar aku dapat merasakannya! Tidakkah kau telah jauh memahami ini! Kau pikir dari mana semua kemiskinan ini berasal? Bukankah tingkah dosen tadi salah satunya? Dan bukankah tingkah para pecundang tadi juga sebagai pelakunya? Sekali lagi apakah ini yang kau maksudkan ke-egoisanku? Kekonyolanku? Kuharap kau mengerti apa yang kumaksud!” tetes air mata mulai menetes dalam raut wajah yang begitu penuh luapan emosi.

       “Untuk apa semua ini? kenapa? Kenapa harus seperti ini! Kenapa kau harus memilih jalan seperti ini?”

       “Aku muak dengan kesumpekan hidup ini! Tidakkah hatimu bergetar ketika ibumu dimaki tepat diujung matamu? Tidakkah hatimu bergetar ketika ayahmu mulai meneteskan air mata untuk membayar uang kuliah-mu? Itulah yang kurasakan! Dan ketika aku melihat keegoan dosen yang seenaknya saja memungut apa yang seharusnya tidak dilakukannya tentu aku berontak. Aku tidak ingin membawa kebenaran pada liang kuburnya. Kau pikir aku tidak ditakuti rasa takut sama seperti kalian? Bedanya aku melawan rasa takut itu! Ketika kita telah mengetahui bahwa kemiskinan ini karna ego segelintir orang yang begitu tamak akan kehidupan ini dan kau menemukanya berada tepat dihadapanmu maka kita harus memilih! Apakah kita akan melawan demi tegaknya hal benar atau menjadi pecundang yang menghamba pada ketakutan! Dan kau sebagai sahabat, aku sangat benci engkau karena telah menyadari ini semua!”.

      “Lantas apakah aku salah ketika memihak pada kepentingan orang yang lebih banyak? Bukankah aku bertindak sesuai apa yang diinginkan mereka? Jika itu tidak aku lakukan layakkah aku menjadi pemimpin? Coba katakan padaku!”

       “Kebenaran bukan terletak pada suara banyak orang! Ingat itu! berpikirlah adil Sur! Adil pada yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya! Tentu sekarang kau tinggal memilih apakah kau ingin menjadi apa yang orang harapkan atau kau ingin menjadi apa yang kau harapkan! Pilih lah! Karena aku adalah orang yang menjadi apa yang aku harapkan. Karena jika tidak sama saja aku menghilangkan kemerdekaanku pada orang lain. Jadilah diri sendiri!” tangis deras mencucurkan air mata. Fajar bergegas meninggalkan Surya dengan wajah yang penuh amarah.

       Hampa. Kering. Angin berhembus menyapu tetes demi tetes air mata. Kedua insan setengah baya itu terisak tangis. Sejenak Surya merenungkan perdebatan yang terjadi. “Tidak, aku tidak adil”. Lambat laun dirinya mulai menyadari dengan tertunduk dan terus menangis. “Tak seharusnya rasa takut ini kupakai untuk membenarkan sesuatu, dia benar”. Rasa kecewa mulai muncul pada hatinya. “Kau benar, sungguh tak pantas bagi seorang sahabat!”. ***

Posted in Cerita

| Cinta di Jalan Sunyi |

Oleh : Tohi

Kenapa aku harus berkata-kata

Jika engkau tidak lagi ingin mendengar?

Kenapa aku harus mengungkap rasa

Jika hanya menghasilkan gusar?

        Malam mulai larut. Aku bingung, tidak! Aku jatuh cinta padamu. Berselimut cahaya rembulan aku mengadu. Seolah alam semesta hidup mendegar keluhku. Aku mengadu di tengah hamparan bintang-bintang gelapnya malam. Ya, kegelapan seolah cermin dari suasana dalam bilik hati. Hatiku gaduh, riuh karena riak suara oleh rasa menggelora namun tertahan oleh gaya hidup kaum tua.  Bukan karena tidak sanggup untuk mengatakannya padamu, melainkan kata itu akan berjumpa pada jalan terjal penuh kesunyian. Sunyi dari keharmonisan dimana kaki ini berpijak, oleh karena itu riak hati ini kutulis pada kata dalam sajak untukmu, pujaan hati.

        Jika engkau mengenal era kegelapan dahulu kala, yang melanda dunia Eropa. Suara kebebasan terperangkap dalam suasana Teokratis yang begitu massif. Tidak ada kondisi yang boleh bertentangan dengan dogma sebuah kepercayaan yang dianut dan terlembaga oleh Negara. Kritik adalah sebuah keniscayaan ketika tidak ingin berujung pada tahanan sel bahkan hukuman mati. Ketakutan-ketakutan terhadap dunia dibalik kubur di tanam berakar dalam psikologis masyarakat sehingga kebebasan terbelenggu kendati isi dalam doktrinasi berasal dari kitab suci. Cara menyampaikan isi yang membelenggu tentu akan mereduksi isi yang ingin membebasakan.

        Namun apakah kondisi tersebut tetap berlangsung? Tidak! Secara gamblang saat ini dunia Eropa begitu berdasar pada pandangan mengenai kebebasan. Revolusi-revolusi social yang mewarnai dunia Eropa mengambil andil besar keluar dari kondisi yang penuh suasana etnosentrisme. Dibalik terciptanya kondisi baru tentu ada tokoh-tokoh yang tidak hanya mengikuti sejarah melainkan menjebol sejarah. Mereka yang  mengorbankan nyawa demi sebuah perkembangan peradaban yang lebih baik. Tanpa nyawa yang hilang kondisi baru tidak akan lahir. Begitulah sejarah berlangsung, terus ada pertentangan didalamnya, bahkan hingga saat ini.

        Hatiku yang sedang bernafas ingin seperti hembusan kebebasaan di Eropa. Saat ini, hati itu sedang semput, sesak oleh cara hidup orang dahulu. Ya, lebih terang kukatakan, cintaku terpagar oleh budaya, adat istiadat. Aku lahir sebagai manusia yang ditempel oleh budaya Batak. Meski aku tidak pernah memilih sebelum aku lahir. Aku menerimanya begitu saja. Ketika hati belum bergesek dengan aras budaya, aku tidak menganggap budaya sebagai sebuah persoalan. Hingga akhirnya mataku menatap dirinya. Aku bertemu dengan dirinya. Aku mengenal dirinya dan kami merasakan nikmatnya bersama. Kala itulah, budaya ingin kutebus karena kami terpagar oleh marga.

      Kisah ini berawal dari perpustakaan. Saat itu aku sedang membaca dan ia tepat berada didepan tempat dudukku. Seketika mata kami saling menatap. Tak cukup sekali, kami mulai mencuri-curi pandang. Aku tersenyum, kualihkan pandangan kepadanya lebih dalam. Ditemani suasana yang hening, ia mengerutkan kening pada buku bacaannya. Sesekali disapunya rambut yang jatuh menutup mata. Tidak! Matanya coklat, alisnya tegas, badannya mungil dan parasnya manis. Jarinya diayunkan tepat di sela antara mata. Ia memperbaiki posisi kacamatanya. Kiranya untuk memperjelas penglihatan. Pasti ia seorang pembaca, pikirku.

       Mataku kembali membaca teks yang kupegang. Tidak, pikiranku tak lagi mencoba untuk memahami teks, pikiranku mulai terbang mengambarkan wanita yang tepat berada dihadapanku. lelaki memang gampang jatuh hati, apalagi pada pandangan pertama. Tidak perlu naif, fisik menjadi objek penilaian utama bagi lelaki kebanyakan. Kata-kata ini mulai terngiang. Itu kata yang diucapkan rekanku beberapa hari lalu. Kali ini sepertinya aku harus mengangguk pada pernyataan itu. Hus! Tidak, tidak, ini hanya perasaan sementara. Aku mulai menatapnya kembali. Mata kami bertemu, kali ini tidak sebentar. Ia mulai menatap bukuku dan aku membalas pula demikian.

       “Menulis untuk keabadian?” kataku. “Menulis untuk kemanusiaan?” balasnya. Aku tersenyum. Bumi Manusia, judul buku yang sedang dibacanya. Sedang aku membaca buku tentang humanisme. Seketika kami saling berbalas senyum. Itu awal bagiku berbincang dengannya. Namanya Inaranti (segenggam bunga matahari di sore hari) dan aku sendiri Floryn (bunga mekar). Tidak perlu waktu yang lama untuk dekat dan mengenal. Dari perjumpaan pertama kami mulai saling mengisi hari-hari bersama. Sadar memiliki persamaan, bertukar pikiran menjadi sebuah keniscayaan. Tidak hanya bertukar pikir, melainkan untuk saling berbalas rasa dalam status hubungan pula sebuah keniscahyaan. Aku satu marga dengannya. Ya, secara adat istiadat, kami tidak dianjurkan untuk saling memiliki rasa suka layaknya seorang yang sedang dimabuk asmara. Menjadi saudara dengan hubungan antara abang dan adik lebih tepat. Tidak! hatiku berontak untuk itu.

       Hitungan detik, menit, dan jam berlalu. Hari-hari berlalu hingga tahun. Sederet kisah telah terlontar, proses untuk saling mengenal berjalan penuh kemesraan. Sembari giat membaca dan berdiskusi, cinta bertabur dari tiap gerak tubuh ketika aku dan dirinya saling bertemu. Hati telah saling berbalas, pikir telah saling bertukar, mata bertemu, bibir mengucap kata, bahkan saat-saat anggota tubuh kami saling bersentuh satu sama lain, memberi arti berbeda ketika itu oleh orang yang berbeda. Kami bercinta dari tiap gerak tersebut. Ya, itu oleh karena cinta. Cinta sumber dari tiap gerak itu. Cinta, hmp, apa itu cinta? Tiba-tiba kepalaku mulai pusing.

        Tiba-tiba pertanyaan itu terus menyerbu pikiranku. Aku mulai mencari referensi. Ada banyak penyair, aktivis, bahkan filsuf yang berbicara tentang cinta. Tidak, tidak! aku tidak ingin terjebak dengan pikir orang lain terlebih dahulu, kendati para pemikir terdahulu telah menyusun logikanya sendiri. Sapere aude! beranilah memakai akal budimu sendiri, sebuah moto masa pencerahan. Pesan singkat tanda kedewasaan abad yang lalu. Aku ingat akan pesan ini. Baiklah, akan aku susun melalui kata-kataku sendiri. Tapi, dari mana aku harus memulainya? Sial, pikiranku lagi-lagi berputar. Aku butuh udara segar.

        Aku mulai berjalan-jalan mencari inspirasi. Sesekali kejadian yang tertangkap oleh mata aku renungi betul-betul. Berharap bumi memberi pesan atas pertanyaanku. Aku mulai berpikir acak, aku berdialog dengan pikirku. Mulutku tiba-tiba berucap komat-kamit, seperti dukun yang mengucap mantra. Orang lain tentu akan berpikir aku sedang berbicara sendiri layaknya orang gila. Ya, terkadang orang gila yang dapat menembus sejarah, pikirku. Aku mulai merenung atas realita yang kutangkap sambil berjalan.

       Mataku liar menatap sekeliling. Ada seorang ibu yang mengucap cinta pada anaknya. Ada sepasang kekasih pula yang juga mengucap cinta. Seorang sahabat yang berucap cinta satu sama lain. Hmp, untuk saat ini itu yang terungkap. Aku sejenak mulai berpikir, apa hal yang paling menonjol dari hal tersebut. Baiklah, hal terpenting, cinta bukan sesuatu yang dapat kutangkap berupa wujud. Bukan sebuah materi ataupun benda mati. lantas, tidak ada penilaian mutlak atas itu. Berarti, setiap orang berhak memberi arti pada cinta. Aku balik merenung. Huh, merepotkan.

        Eksistensi mendahului esensi, aku teringat kata-kata seorang filsuf eksistensial. Tiba-tiba saja aku terpikir. Ia menguraikan bahwa tidak ada sebuah esensi yang utuh ketika hal tersebut masih bergerak atau berubah. Hakikat yang terdapat dalam manusia hanya dapat dinilai ketika seseorang tersebut telah mati, dengan begitulah penilaian (mutlak) baru dapat dilakukan. Alhasil, hakikat dari manusia tersebut baru dapat dirumuskan.

      Sepertinya faham itu dapat digunakan untuk menjelaskan hakikat cinta. Ketika seseorang mengucapkan cinta, tentu berasal dari pengalaman pribadi bercampur pengetahuan seseorang tersebut. Itu masih dalam wilayah eksistensial, sebuah proses menghadirkan. Namun hakikat cinta dilihat dari perilaku yang tergores dalam lembar-lembar keberadaan. Disaat lembar keberadaan tidak lagi dapat ditulis, hakikat cinta terumuskan. Itu artinya definisi cinta yang sedang aku pikirkan hanyalah sementara, tidak absolut. Huh, letih rasanya, aku pulang.

     Tahu bahwa memiliki rasa yang sama dan sadar terbentur oleh adat istiadat, mengalihkan pikiranku kepada dirinya. Beberapa hari lagi dirinya akan berangkat ke Jawa sedang aku di Sumatera. Ia akan segera bekerja disalah satu media massa ternama di Indonesia. Harus ku akui dirinya seorang yang cerdas, cekatan, dan penuh kreatifitas. Tipe seorang petarung. Aku sangat cinta padanya. Disela-sela malam, hujan turun dari awan yang pekat. Petir berteriak sesekali, berselimut kilat yang memberi terang pada hitamnya langit. Kurebahkan badanku, kutatap langit-langit. “akh! Kenapa harus bertengkar!” lirihku kesal. Rasa gelisah mulai mencemar pada malam yang hening.

       Sudah beberapa hari ini kami tidak bertemu, bahkan memberi kabar. Perselisihan ini berawal ketika rasa khawatir mulai bertiup. Terpaan berontak semakin kencang oleh jarak yang terbentang akan hari-hari kedepan. Ruang yang diberi sang khalik akan semakin sempit untuk berjumpa, dan waktu terurai tanpa sentuhan antara aku dan dirinya. Rasa was-was itu semakin bertumpuk atas ketidakinginan menjebol tatanan hidup silam. Bercampur ketidakberdayaaan, dalam situasi itu dirinya berupaya mengakhiri. Ya, dirinya mengutarakannya padaku. Seketika hatiku semakin semput, apakah aku takut? Ya aku takut! Aku belum siap kehilangan dirinya. Melepas apa yang sudah mengisi hari-hari adalah sesuatu yang tidak patut untuk dilupakan, melainkan dikenang. Kenangan akan jadi muara kesedihan. Huh, besok akan menjadi perjumpaan terakhir kami sebelum dirinya pergi. Aku harus siap!

        Hamparan bunga terbentang, mentari mulai memberi tanda ingin terbenam. Angin sepoi berhembus, kami duduk menghadap danau berterang cahaya senja. Tampak raut wajah penuh kebimbangan. Terasa suasana begitu kaku. Aku gelisah, kulirik matanya. Ia seperti mengenang sambil menatap alun-alun danau bertemankan kicauan burung menari-nari lepas di horizon.

        “Aku akan pergi minggu depan” ucapnya.

        “Ya, aku tahu” jawabku cepat.

      “Sangat berat untuk mengatakannya padamu, bagaimana jika rasa terlepas dari sebuah kepemilikan, dari keterikatan, dari pertemuan, dari tangan yang tak lagi saling menggenggam dan terbelenggu oleh tatanan hidup silam?” tanyanya menyerbu. Seketika aku diam, aku tak berhenti menatapnya. Raut wajahnya mendung.

         “Ya, aku mengerti”

      “Mengerti bukan berarti menerima, bukan jawaban, tidak mengambarkan sedikitpun kehendak!” suaranya geram.

      “Kenapa aku harus memberi jawaban jika tak merubah keputusan? Bukankah mengerti lebih baik ketika kehendak dua insan tidak akan bersatu? Ya, aku mengerti kau tidak dapat untuk meneruskan hubungan ini. Atas ketidaksanggupanmu! Kenapa alih pikir puluhan tahun lalu mampu menyetir tentang rasa yang saling berbalas hari ini? Kenapa? Lantas dirimu mengucap bahwa cinta tidak mesti memiliki? Bulshit! Didalam cinta ada rasa yang saling berbalas. Adakah sepasang insan yang mengucap cinta, namun mengucap cinta pada yang lain pula? Bermesra pada yang lain pula? Apakah cinta mengandung syarat? Siapa yang bentuk syarat tersebut? Apakah cinta terbelenggu oleh syarat yang bahkan tidak lahir dari alam pikirmu? Keinginanmu? Apakah kau hidup oleh orang lain? Kau bahkan tidak punya duniamu!”

       “Ya, aku bahkan tidak memiliki dunia, karena dunia tidak hanya milikku! Aku menghargai leluhur, aku menghargai orang sekelilingku yang juga menyayangiku. Atas dasar itu aku memutuskan hubungan kita. Bukan karena tidak berbalas rasa! Aku sangat mencintamu! Ingat itu!” tidak lagi dapat terbendung, tanpa isak, tetesan air mata berlinang. Tidak hanya dirinya melainkan aku juga. Ia berdiri dan pergi.

        Aku menangis. Perih hati tidak dapat kutahan. Kenapa? Kenapa ini terjadi? Tanya menjadi liar dikepalaku. Terus berbunyi-bunyi. Sembari isak tangisku terus menderas membasahi pipi. Sepi, sepi, rasa ini akan menyepi. Senjaku mulai hilang, bulan mulai datang. Ku rebahkan badanku. “Inikah cinta?” sesalku. “Melahirkan tangis, kesal, kepedihan?” seketika aku membeci dirinya. “Cintaku terbelenggu! Tidak ada kebebasan! Tidak! aku tidak mampu untuk membebaskan cintaku, karena cinta bukanlah kepemilikanku. Ya, bukan kepemilikanku. Tapi aku dan dirinya. Cinta yang kuinginkan ini butuh kesepakatan. Mengandung relasi antara aku dengan dirinya. Ada keharmonisan. Ada keselarasan. Ada persamaan dibalik perbedaan” mataku mulai menutup. Lirih meletih suara. Aku lelah. Tubuhku terlelap oleh rasa berselimut kesedihan.

       Inaranti telah pergi sebulan lamanya. Aku masih tetap memikirkannya. Cintaku telah sunyi. Tidak lagi ramai oleh tawanya. Tidak lagi hangat oleh pelukannya. Tidak lagi menyimpan amarah, bahagia, suka, dan duka. Hari-hariku hampa. Tanganku mulai menulis. Aku tidak tahu lagi bagaimana ingin mengungkap rasa ini. Didalam kertas putih ini ku gores kata mencermin isi hatiku. Ya, kebebasan dari rasaku hanya ada pada tinta pena yang membentuk huruf menjadi kata berbaris-baris menjadi puisi. Ia hidup dalam dunia yang imaginer. Diluar dari pada itu, ia telah mati. Akan segera ku sampainya padanya bahwa dirinya akan segera kulupakan.

Untuk waktu yang terus berputar..

Sampaikan pada detik, menit, dan jam..

Bahwa dia dan aku saling bersandar..

Kendati jarak menguji rasa sabar..

Untuk terus bertahan dengan menunggu-nunggu kabar..

Maka pagi, cerahlah layak matahari ..

Namun panas jangan engkau beri..

Karena curiga menghantui hati..

Hingga kata-kata menjadi tidak berarti..

Dan pada ruang yang terus lapang..

Sampaikan pada kehampaan..

Untuk segera pergi dan hilang..

Agar yang berada ialah kebahagiaan..

Salam padamu ke-tiada-an..

_Tamat_

Posted in Puisi

| Rindu-Ku |

Rindu,
Memberi jejak saat kedua tangan saling menggenggam…
Rindu,
Memberi jarak saat dua insan ingin saling menatap…
Rindu,
Menghadirkan ingatan akan kisah indah yang menjadi kenangan…

Dengan tetesan air mengalir membasahi pipi…
Dengan isak mungil suara hati yang tersayati…
Dengan jantung yang tidak pernah berhenti untuk berdetak…
Dan menyembunyikan kerisauan di dalam diri…

Kapan kita dapat berjumpa lagi?
Melewati sunyinya sore, ditemani hembusan angin…
Berada di kursi pinggir taman…
Kita menatap danau yang diselimuti kehangatan…
Menggambarkan bilik hati yang sedang bertemu…
Mempersatukan merah dan kuning…
Berselimut senja di sore hari…

Tidak!
Rindu-Aku…

Posted in Puisi

| Aku dan Diriku |

Suara –suara itu melahirkanku…
Pikir-pikir itu membentukku…
Orang-orang itu adalah kaum tua duniaku…

Aku dengan namaku…
Bukanlah aku, karna penamaanku alih pikir orangtuaku…
Aku dengan agamaku…
Bukanlah aku, karna kepercayaan oleh ketidaktahuanku…
Aku dengan pikirku…
Bukanlah aku, karna otakku rekam pikir pendidikku…
Aku dengan perutku…
Bukanlah aku, karna peluh itu oleh penyayangku…

Gerak-gerikku oleh fana alam pikirku…
Pernyataanku hanya kata kosong dari langit-langit dunia ide ku…
Tidak!
Setidaknya ujung pena ini membantu menggoreskan kata-kataku…
Membentuknya menjadi sebuah kalimat, paragraf hingga menjadi gagasanku…
Gagasan tentang aku atas pikirku…
Akankah aku adalah diriku?
Atau diriku adalah aku?

15 juni 2016, 21: 18

Posted in Puisi

| Penghantar Risalah |

Apa yang harus kutuliskan pada kekosongan…
Jika tinta tak terisi oleh kenangan…
Apa yang harus kutuliskan pada keberadaan…
Jika hidup tidak terisi oleh kebersamaan…

Pada langit-langit yang menghitam oleh gelapnya malam…
Sampaikan pada rembulan untuk tidak tenggelam…
Agar pagi tidak mengusik mimpi…
Satu-satunya ruang menuangkan ingin yang tak jadi…

Tapi,
Aku mulai bertanya-tanya…

Kenapa aku harus berkata-kata…
Jika engkau tidak lagi mendengar?
Kenapa aku harus mengungkap rasa…
Jika hanya menghasilkan gusar?

Tidak!
Inginku tetap berkata-kata…

Lantas,
Inikah cinta?

Posted in Cerita

| Gelisah Dibalik Senja |

IMG_20180603_184350.jpg

Aku menatap horizon. Mengidentifikasi warna ke-orenan. Senja, aku menyebutnya. Itu sebutan saat gumpalan putih berada diantara siang dan malam. Aku menerimanya, bukan menamainya. Sebelumnya sesuatu itu telah dinamai. Dan saat ini aku belum ingin memberinya nama.

       Senja itu berada diatas dan balik bukit. Di bawah ada hamparan danau. Burung-burung mengepakkan sayap. Terbang. Bebas. Aku ingin!

      Ku seruput kopi dalam ruang berpapan. Kedai kopi. Sembari bercerita dengan penjual. Mata bak jendela hingga bekerja nilai estetik dari jiwa untuk mengakhiri dengan sebuah kata, indah. Alam yang memberi. 

       Lalu, pikir bekerja seperti mesin waktu. Mengingat rentetan satu persatu. Gelisah muncul. Untuk apa semua ini? Aku datang dengan sepeda motor. Sekitar 5 jam. Mencari tempat menginap. Sendiri. Mempersiapkan uang, alat rekam, dan data-data. Menyusun dan mencari data-data lagi. Data itu ingin menjadi cermin dari seonggok daging yang bergerak. Melelahkan.

     Sebelumnya, aku telah mengambil judul. Ku presentasikan masalah dari cara pandang teori-teori, yang jauh dari lokasiku. Teori yang ntah bagaimana disimpulkan sewaktu itu, ditempat berbeda. Lalu ingin kuuji dari tempat berbeda pula. Jika sinkron, maka teori itu ilmiah. Artinya teori dapat dibuktikan dimanapun dirinya ditempatkan. Itu logika yang menyimpulkan dari hal umum ke-khusus. Tradisi ke-ilmuan Inggris dan Perancis, setelah zaman pencerahan memberi terang. Tidak-tidak. Dalam riset ini, teori hanya alat bantu untuk menjabarkan. Membantu mengambil sudut, sehingga lebih sistematis dan terarah. Lebih ke tradisi German.

      Tradisi German, dari khusus ke umum. Artinya dalam ruang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Tidak perlu menguji teori, tapi menghasilkan teori. Sebuah anti-thesa dari yang awal. Untuk melakukannya perlu waktu sekiranya 6 bulanan. Ya, itu minimal. Tradisi ini yang ku pakai, tapi  dalam bentuk semi. Aku tidak punya daya untuk sampai selama itu. Berat. Lagian masih mau mencapai S1. So, tak perlu menghasilkan, setidaknya memahami metode. Epistemologinya. Itu sudut-sudut pandang khalayak umum. Terutama dari kaum tua yang sudah tamat. Sudah waktunya cepet menyelesaikan. Trus kerja. Motifnya tak lain untuk menghentikan penghisapan, atas “pemberi donor” sampai saat ini. Agar aku yang mendonor kemudian. Ya kudengarkan.

      Lanjut. Demi menjabarkan dan mencapai kesimpulan. Wawancara dan observasi dilakukan. Dokumen-dokumen dikumpulkan. Semuanya, dari materi itu. Ku lukis menjadi kata-kata dalam kertas putih. Layaknya cermin. Lalu kata itu akan diuji. Bukan fakta, tapi kata-kata. Apakah kata sesuai dengan judul? Apakah kata sudah menggambarkan materi? Atau apakah kata telah diterima oleh sipenguji?

        Lalu?

        Kata itu tenggelam dalam kertas. Terkurung. Kesimpulanpun hanyalah kata. Kata itu tidak menjadi materi lagi. Karena tidak memang dimaksudkan untuk itu.

        Lalu pembela datang. Bukan kata, melainkan cara untuk menyusun kata?

      Ku sahut. Lalu cara itu tenggelam dalam kepala. Lama-lama menua, trus lupa. Sesuatu datang dan lambat laun dilupakan. Kemudian hilang.

        Tanya kenapa?

      Karna memang instrumennya dimaksudkan bukan untuk menghasilkan ubah tapi sekam, sampah!

         Kemudian?

        Kuteguk kopiku. Habis. Tumbuh gelisah!