Blog

Posted in Cerita

| Sepi Dalam Ramai |

       Beberapa tahun lalu, ada seorang pemikir psikolog, namanya Carl Jung. Beliau membagi kepribadian manusia menjadi dua, yakni introvert dan ekstrovert. Singkat penjelasannya, introvert itu tipe penyendiri, sedangkan ekstrovert tipe yang ramai.

      Suatu waktu, aku bosan di kos. Terbit pikiran untuk beranjak, lantas kemana? Kampus menjadi lokasi pertama muncul. Ntahla, mungkin karena aku seorang mahasiswa makanya spontan ide itu keluar. Aku mulai beranjak. Mandi, sarapan, lalu dengan kereta sampai di perpustakaan.

       Di pojok kantin, tepat di sisi kanan tempat menjual minum dan makan aku duduk. Ku buka laptop dan buku-ku, ku sediakan pena. Aku mulai menulis. Ditemani Capoccino dingin penyegar dahaga kala haus melanda. Ntah kenapa, aku bisa menghabiskan waktu hingga sore. Kalau dikira-kira, hmp, sampailah lima jam-an. Aku puas. Merasa produktif. Senang dapat mengisi waktu sesuai selera.

       Sewaktu malam tiba, aku merenung. Di kepala aku bertanya-tanya. Kenapa waktu di kos tidak seproduktif di kampus ya? Hmp, keningku mulai mengerut. Padahal, kalaulah dipikir-pikir di kosan kan lebih hening. Aku kalo membaca suka suasana hening.

       Esoknya aku melakukan hal yang sama. Selama seminggu aku coba lakukan hal yang sama. Hasilnya dominan sama. Barulah aku mengerti. Aku menginginkan suasana di luar diriku yang ramai. Tetapi aku tidak ingin masuk secara aktif dalam suasana itu. Tidak ingin diganggung, tapi menikmati keramaian diuar diriku. Aneh gak sih? Seringkali ketika mata letih melihat kertas dan layar laptop, pandanganku liar menatap aktivitas sekeliling. Pikirku mulai mengamati lintasan horizon. Meski sewaktu melihat, sering kali di kepala soal dalam teks yang aku renungkan.

     Lantas, dalam suasana ini apakah aku introvert? ekstrovert? Sepertinya dualis, hahahah. Tidak ada yang menetap. Segalanya berkembang. Berubah. Secara kuantitas hingga kualitas. Misal, introvert jika kuartikan sebagai sepi. Maka, sepi saat-saat itu, kuterjemahkan begini ; Sepi bukanlah ketidakadaan suara, melainkan menikmati keramaian. Menikmati yang menjurus dimensi di luar diri, keberadaan orang lain yang meng’ada’. Sedangkan  di dalam diri, fokus pada keberadaan diri. Tidak anda konektifitas antara luar dan dalam secara aktif. So, bukan tidak suka pada keramaian, dan suka dalam kesunyian. Atau tidak suka kesunyian (aktif) dan suka pada keramaian (pasif).

       Suka pada kesunyian dan suka pada keramaian. Sunyi dalam diri dan ramai luar diri. Atau lebih singkat, sunyi dalam ramai. Ya, itulah aku.

Demikiankah engkau?

 

Advertisements
Posted in Puisi

| Markah |

 

Ada kata yang terjepit

Meski tak tampak

Berada pada sela-sela kalimat

Untuk menyampaikan maksud

 

Ada kata yang terselip

Di tiap kata itu sampai padamu

Meski tak berbalas

Bak air mengalir deras

Ia ada pada gelombang

 

Demikian,

Mungkin kata itu telah usang

Seperti kata pada tumpukan buku

bersandar di dinding lembab

Telah rusak termakan rayap

 

Namun sayang,

Buku itu takkan dibuang oleh pembaca

Sama halnya kata itu

Telah tersimpan pada tempat yang teguh

Posted in Opini

“Kritisisme Dalam Cengkraman Hegemoni”

Sewaktu kuliah semester akhir, saya pernah melontarkan beberapa pernyataan kepada teman seangkatan. Kala itu kami berada pada masa-masanya dimana seminar proposal dikejar agar cepat mengakhiri perkuliahan.

“Mahal kali ya lae biaya seminar proposal ini, masa kita sediain makanan dan minuman untuk karyawan dan dosen, gilak”

“Iya lae, malah nasi kotak dan itu gak bisa yang murah, mesti dari restoran Garuda dan Sederhana pula. Belum lagi sidang lek. Pokoknya habislah lek, siapin lah sejutaan lek”

“Bah, iyanya. Kalo engga ada uangku kek manalah lek? Wajibnya itu tahe? Kalo engga wajibnya, ya tak usah kasihla lae”

“Agoyamang laekku. Wajib itu keknya lae. Dari dulu-dulu sudah begitu soalnya. Ya mau gimana lagi”

“Oh ya? Wajib? Adanya peraturannya lae? Lae bikin takut ah, belum ada uangku soalnya”

“Wah, kalo peraturan engga tahu lae. Tapi kalaupun melanggar peraturan tetapnya kita bikin itu, dari pada dipersulit lae, lama tamat nanti”

“Oh, iya ya. Okelah lae, berarti cari uanglah dulu, hahaha”

***

       Perbincangan di atas merupakan secerca informasi berbasis percakapan yang sering bertaburan pada kalangan mahasiswa tingkat akhir. Tidak berhenti pada satu tanggapan, saya kembali lontarkan pernyataan serupa pada rekan-rekan lainnya, terkhusus yang aktif di organ mahasiswa. Upaya ini saya lakukan atas dasar rasa penasaran, kenapa tindakan koruptif demikian marak terjadi di kampus? Oleh karena itu, terbit keinginan mencari tentang apa pra kondisi dibalik “fenomena” yang janggal tersebut sehingga menghasilkan sebuah kesadaran.

    Setelah coba mengarungi dan merekam beberapa respon mahasiswa terkait soal pungutan tersebut. Bila saya uraikan, maka ada yang menjawab, “Iya lae, sebenarnya secara peraturan salahnya itu, cuman kek malah lek, tuntutan orang tua biar cepat tamat biar terus kerjanya”. “Itukan sudah budaya, kita doakanlah, biar nanti dia tanggung dosanya”. “Ayolah lae, kita demo lae!” Kira-kira demikian inti argumentasinya. Jika dipresentasikan, yang terakhir ialah pernyataan minor terdengar. Sekian deskripsi kondisi pada masa itu-yang mungkin pula masih terus berlanjut kini.

  • Perspektif Paolo Freire

     Sekarang saya akan coba mengurainya dengan menggunakan beberapa teori atau perspektif untuk menjawab soal bagaimana kesadaran itu muncul. Kesadaran yang bersembunyi di balik pada basis argument-argument tersebut. Bicara soal kesadaran, mari kita mengawalinya dari sudut pandang Paolo Freire, seorang aktivis di bidang pendidikan yang mengatakan ada 3 jenis kesadaran berdasarkan arkeologi kesadaran yang ia rumuskan: pertama, kesadaran magis, ialah kesadaran yang akan mengaitkan permasalahan pada hal-hal gaib atau sesuatu yang “given”, jadi cenderung menerimanya begitu saja. Penderitaan bukanlah akibat dari eksploitasi melainkan takdir Tuhan, sehingga melahirkan paradigma yang fatalistik. Kedua, kesadaran naif, yakni mengetahui bahwa ada permasalahan tapi tidak mengujinya secara cermat sehingga tenggelam dalam persoalan. Ketiga, kesadaran kritis, yakni memiliki kemampuan berpikir dan bertindak sebagai subjek hingga menghasilkan transformasi.

     Semisal dalam menarik simpul asal-usul kemiskinan. Kesadaran magis akan berujung pada argument fatalis, bahwa itu sudah takdir atau semacamnya. Sedang kesadaran naif, mengerti secerca permasalahan dan menganggap bahwa itu salah dari dirinya sendiri. Bahkan tak jarang pula motto yang hadir secara implisit, “Jangan tanyakan apa yang diberikan padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan pada negaramu”, menjadi fondasi untuk mengafirmasi tindakannya. Terakhir, kesadaran kritis, sebagai satu-satunya konstruksi berpikir yang berupaya mengungkap tabir di balik kemiskinan. Bahwa kondisi yang ia terima bukan sesuatu yang “given”, melainkan telah melalui proses peradaban yang tersistematis. Artinya, kemiskinan sebagai kondisi dari upaya untuk memiskinan oleh seorang kepada orang lainnya, jadi bukan semata “miskin” melainkan “dimiskinkan”. Oleh karena itu, sebagai sebuah subjek, idealnya kesadaran kritis akan menuntun untuk melahirkan atau mendorong sebuah transformasi sosial demi menghentikan proses dehumanisasi yang terjadi.

      Kembali pada soal di atas. Jika coba dikaitkan antara jawaban dari beberapa rekan yang saya jumpai dengan arkeologi kesadaran yang dikemukakan oleh Paolo Freire. Saya mengamati kesadaran subjek yang saya amati, di dominasi oleh kesadaran naif dan magis. Artinya, mengerti bahwa tindakan itu salah, namun sikapnya; ada yang lari pada pandangan fatalis-teologis, dan ada juga memilih patuh atau tunduk karena merasa takhluk pada kekuatan kekuasaan serta dorongan untuk cepat tamat. Segenap budaya pragmatisme hingga opportunis jadi menempel dan mengkristal jadi semacam identitas. Tidak heran bila korupsi menjadi persoalan pelik bangsa ini. Kampus yang seharusnya menghasilkan subjek kritis pula kian menjadi tumpul oleh culture yang mendefisitkan peradaban tersebut.

      Lalu yang jadi pertanyaan kemudian, kenapa paradigma itu kian mapan? Kenapa budaya “diam” itu telah menjadi sikap yang dominan?

  • Perspektif Antonio Gramsci

      Selanjutnya, ini menjadi point penting yang akan diuraikan. Di sini penulis akan memakai teorisasi dari Antonio Gramsci, seorang pimpinan partai komunis Italy dahulu, dengan teori hegemoni yang ditulisnya ketika berada dalam penjara. Dahulu, Karl Marx meramalkan bahwa kapitalisme di Inggris sebagai cikal bakal revolusi industri berlangsung, akan hancur dengan sendirinya secara alamiah. Kunci kehancuran itu berada pada pertentangan kelas yang dimenangkan oleh kelas buruh. Namun terakhir, ternyata kelas buruh tidak naik pada panggung kekuasaan. Kelas menengahlah yang naik, para kaum borjuis. Kenapa hal ini terjadi? Di sinilah hegemoni dioperasionalkan dan berfungsi sebagai penahan kontradiksi pertentangan kelas. Dalam buku yang dituliskan Agus Nuryatno (2008:33), “Mazhab Pendidikan Kritis”, mengatakan bahwa:

   “Pada dasarnya hegemoni bisa dipakai sebagai alat analisis untuk memahami mengapa kelompok-kelompok subordinat secara sukarela mau berasimilasi ke dalam pandangan dunia kelompok dominan, yang pada gilirannya membuat kelompok ini menjadi mudah untuk terus melanggengkan dominasi kekuasaan mereka”.

      Lebih lanjut juga diterangkan:

    “Proses hegemoni melibatkan penetrasi dan sosialisasi nilai, keyakinan, sikap, dan moralitas di masyarakat yang dimediasi oleh praktek-praktek sosial, politik, dan ideologi. Ketika prinsip ini diinternalisasikan oleh masyarakat maka akan berubah menjadi common sense, yang pada gilirannya mendegradasi fakultas kritis masyarakat dan sebaliknya memperkuat status quo.”

      Alhasil kita akan mengungkap tabir di balik “budaya diam” itu dengan melihat proses hegemoni yang berlangsung secara implisit. Pertama, dari institusi keluarga. Tidak jarang dalam institusi keluarga memuat paradigma bahwa tujuan dari kuliah ataupun sekolah ialah untuk bekerja lebih mapan, menghasilkan banyak uang. Jadi, memasukkan anak ke kampus, semacam menginvestasikan sebuah barang mentah dan menjadikannya barang jadi yang nanti akan bersaing di pasar lapangan kerja. Demi mencapai itu, diperlukanlah ijazah serta cepat tamat  untuk mendapatkan gelar dengan IP yang memuaskan (Cumlaude).

      Tentu motif itu tidaklah berada pada ruang yang hampa, melainkan dipengaruhi oleh situasi lingkungan sekitar, semisal oleh system yang di bentuk dalam universitas. Misalnya, mahalnya uang kuliah. Sejak diberlakukannya UKT tahun 2013 yang menaikkan uang kuliah 100 persen memberikan pengaruh kuat. Bila kita telisik dari system keuangan kampus melalui UKT secara kasar, ada 10 persen untuk yang 500.000 hingga 1.000.000, 60 persen 2 juta hingga 7 juta, dan 30 persen 5 jutaan dari anak jalur mandiri.

    Alhasil, mahasiswa pada akhirnya dominan diisi oleh kelas menegah ke atas. Kemudian, sebab mahasiswa diintervensi oleh beban finansial (biaya selama perkuliahan) dan keluarga menginginkan beban finansial itu berubah menjadi surplus finansial. Maka status mahasiswa berujung dipandang hanya menjadi batu loncatan untuk mendapatkan “untung” yang secara halus disebut pembaharuan nasib. Seorang anak di sekolahkan agar lebih mapan secara ekonomi dari orangtuanya. Itulah pre teks dibalik paradigma untung-rugi yang menyusup pada kesadaran dan diarahkan pada bidang pendidikan.

     Tidak heran kemudian saat mahasiswa dibenturkan pada persoalan di atas cenderung mengambil posisi pada kesadaran naif dan magis. Bisikan keluarga yang menuntut untuk cepat tamat dengan segala cara hingga melahirkan sikap memaui praktik korup itu-meski terkadang dengan berat hati namun takhluk-dapat menjadi faktor determinan. Terlebih karena ada budaya patuh pada orang tua yang amat kental pada kultur Timur. Jadi, mending cepat meski melanggengkan kesalahan, dari pada lama karena ingin berupaya meruntuhkan kekuasaan dibalik kesalahan itu. Alhasil, kritisisme betul takhluk dalam pusaran kekuasaan yang amat tersistematis.

      Di sisi lain pula, bila kita menganalisis habitus yang terbentuk dalam kehidupan mahasiswa beberapa tahun terakhir. Pergaulan mahasiswa seiring berjalannya waktu semakin tenggelam pada culture kapitalistik (metropolitan) seperti gemar gamers, bioskop, shopping, dll. Sedang kegiatan diskusi kritis di kampus kian menghilang, demonstrasi meredup, dan sebaliknya event organizer merebak sebagai agenda organ-organ kampus. Budaya membaca menurun, tradisi menulis meluntur, dan nalar kritis akhirnya tumpul. Habitus inilah yang membungkus sikap naif dan magis itu hingga menahan kesadaran sampai pada kritisisme.

    Demikianlah akhirnya kritisisme itu berada dalam cegkraman hegemoni. Cengkraman itu membuat kritisisme tidak bertumbuh, menyusut, mengecil hingga hancur. Terakhir, cengkraman berubah jadi semacam kepalan rezim tangan besi meski dengan upaya yang soft hegemoni. Terakhir, kekuasaan itu menjadi amat mapan. Mahasiswa dipoles tak ubahnya koruptor karena mendiamkan kesalahan. Dan kampus hanyalah industri oleh tikus untuk menghasilkan tikus-tikus baru. Salam.

Posted in Puisi

| Balas |

Dari mata

Hati

Pikir

Kata

 

Kata

Balas

Kata

 

Pikir

Balas

Pikir

 

Hati

Balas

Hati

 

Ketika

Mata

Saling

Bertemu

 

Jadi,

Cinta..

 

Sederhana

Bukan?

Posted in Puisi

| Diantara |

Seperti senja

Ia diantara

Malam dan Siang

 

Seperti abu-abu

Ia diantara

Putih dan hitam

 

Seperti kehidupan

Ia diantara

Hidup dan mati

 

Seperti cinta

Ia diantara

Suka dan duka

 

Kata itu begitu ajaib

Menahan dua dalam Satu

 

Demikian menjadi kita

Berada diantara

Ketika menyatu

 

Posted in Cerita

| Epistemologi “Lubang” |

Oleh : Tohi

Pertama, Suatu waktu si A diberi tahu oleh B bahwa jarak 2 meter dari tempatnya berdiri ada sebuah lubang. Lalu, timbul pengetahuan pada si A dan melewati lubang tersebut tanpa harus tergelincir ke dalamnya. Sebutlah itu sebagai pengetahuan X.

        Karena Si A pada akhirnya tidak tergelincir, maka ia pengetahuan itu tepat adanya. Lantas bagaimana jika si B keliru atau berbohong. Potensi besar pengetahuan itu akan membawa si A malah kedalam lubang. Dan bagaimana pula bila si A memilih tidak berjalan, pulang, ataupun memilih jalan lain. Lalu, informasi keliru itu, disampaikan A kepada si C yang berada dalam posisi yang sama.

        Setelah si C pada akhirnya tergelincir pada lubang. Pada akhirnya “pengetahuan” itu menjadi objek untuk di caci dan tentu juga pada pada pemberi pengetahuan tersebut, si B dan si A. Berantamlah mereka. Lalu si D bertanya, sebagai seorang pengamat. Siapa yang keliru?

Kedua, Suatu waktu si A tidak tergelincir ke dalam lubang yang berada 2 meter dari tempatnya berdiri karena sebelumnya ia telah tergelincir ke dalam lubang. Rasa sakit membuatnya tidak ingin terjebak untuk ke dua kalinya. Sebutlah itu pengetahuan Y.

Dalam hal ini, lubang adalah hal dapat di tangkap oleh Indera.

       Lalu, bila lubang itu bukanlah hal yang dapat ditangkap oleh Indera oleh karena keterbatasan. Layaknya mata yang mencoba melihat pesawat terbang dari berukuran besar oleh karena jarak yang dekat dari mata. Hingga menjadi kecil, lambat laun hilang dari pandangan. Bukan berarti pesawat itu tidaklah ada.

       Lantas bagaimana bila lubang itu tidak lagi dapat ditangkap oleh indera?

Ketiga, si B menjelaskan kepada A bahwa dulu ada lubang tepat 2 meter ditempat ia berdiri. Lalu A menerima. Lalu, terkait dengan lubang, ternyata si C menjelaskan hal berbeda dengan si E. Dan si E menerima, bahwa lubang itu bukan 2 meter dari posisi si B tadi, melainkan 3 meter.

       Kemudian si A dan si E bertengkar, menyalahkan satu sama lain. Terburuk, darah tertumpah.  Sebutlah itu pengetahuan Z. Lalu si D bertanya, apa yang ganjil?

Keempat, si A mendengar penjelasan si B, bahwa, dahulu, 2 meter tepat dari tempat ia berdiri terdapat lubang. Lalu si A mencari tahu tentang lubang itu dan mendapatinya, ntah itu berbeda ataupun sama dengan si A. Sebutlah itu pengetahuan O.

Hmp,

Lalu, si L berpikir “lewat” dari hal-hal “kekakuan” atau “kebakuan”. Ia bilang, itu bohong! Siapa yang buat menghadirkan 4 hal itu? Palsu, Palsu, Palsu!!! Bagaimana mungkin hal yang terbatas mau mengungkap hal yang tidak terbatas?

What?

Posted in Cerita

| Fajar dan Surya |

   Oleh : Tohi

        Sinar surya sang terang menembus pori-pori kulit hingga keringat tercucur membasahi kening air muka. Dua insan gadis setengah baya berjalan menuju kelas perkuliahan. Fajar dan Surya ibarat air dan tanah yang melengkapi satu sama lain. Mereka diikat oleh persahabatan yang begitu kental sejak kecil, suka duka telah ditapaki bersama-sama. Meski latar belakang ekonomi berbeda namun kini ikatan terus membatin sebagai bukti perjalanan panjang yang telah dilalui hingga suatu saat ujian mulai menghampiri ikatan keduanya.

        “Tak terasa sudah semester 6 saja kita ya Jar” dengan nafas tergesah-gesah Surya berkata.

        “Ia Sur, serasa baru beberapa hari lalu kita menginjak tanah kampus hijau ini”, sambil menatap langit menyaksikan seekor burung yang terbang bebas di udara. “Huh, ayok cepat! Kau ketua panitia, kita rapat PKL (Praktik Kerja Lapangan) hari ini jangan sampai telat!” sambung Fajar.

          “Ah, tenang saja, toh bapak itu sering telat”

         “Meski begitu kita harus hormat atas kesepakatan! Apakah kau ingin sama dengan orang yang melanggar kesepakatan? Sungguh akan sia-sia apa yang kita perlajari selama ini!”

      “Sok idealis banget lu. Hati-hati jadi idealisness!” sindir dengan tatapan meledek.

        “Hahahaha, bukankah idelisme adalah keistimewaan sebagai mahasiswa?” dengan seyum genit di sertai tawa girang penuh keceriaan.

***

        Suara riuh bisik-bisik kecil dalam ruang begitu mencuat. Kedua sejoli itupun masuk kedalam kelas. Surya adalah sosok yang cukup dihormati. Ketika langkah kakinya mulai menghampiri pintu, bisik-bisik lambat laun mulai redam. Mereka duduk kursi bagian terdepan seperti biasa. Selang beberapa menit langkah sepatu hitam memasuki mimbar panggung dan berdiri tepat di depan hadapan para calon sarjana muda. Raut wajah mahasiswa mengerut tanda suasana serius mulai memasuki babak awal hari ini. Dengan gagah langkah kaki Surya maju dan rapat dimulai.

        Rapat berjalan bak air yang mengalir. Tiap-tiap orang setuju dengan putusan namun ketika masuk pada bahasan pungutan biaya dari mahasiswa, sentuhan ombak mulai muncul.

        “Tidak! Saya tidak setuju jika pungutan ini dilakukan” sentak Fajar dengan tegas memecah keheningan. Sejenak kebisuan menghampiri. Bulu-bulu mulai menaik layak putri malu mulai merasakan sentuhan. “Mengapa kami harus membayar? Bukankah sistem mengatakan pungutan ini tidak dibenarkan?” lanjutnya dengan lantang.

      Pada dasar mahasiswa yang berada didalam kelas tahu bahwa apa yang diminta dosen tersebut menyalahi aturan yang ada. Seminggu lalu juga mereka telah sepakat untuk membantah ini. Namun yang tampak tidak demikian. Hal ini membuatnya kesal termasuk kepada Surya. Meski akal telah bersepakat ternyata hati tidak demikian. Rasa takut mulai menghampiri teman-teman sebayanya.

     Perdebatan begitu panas. Beragam alasan keluar dari mulut sang dosen namun di susul dengan perlawanan yang tak berhenti pula. Berawal adu argument, tak jarang terpojok, jatuh pada sentimen. “Kalo memang kau tetap ngotot, ya sudah! Kita tidak usah PKL!” nada ancaman tajam mulai keluar. Hati mulai bergetar, akal mulai tumpul. Fajar berhenti berbicara. Suasana kelas diam. Hening. Mata dosen melotot tepat di hadapannya. Tak ingin takhluk, tatapan tajam penuh emosi terpancar membalas.

        “Ya sudah, saya muak! Surya jumpai saya jika kalian sudah satu suara, kalo tidak kita tidak usah PKL” langkah dosen meninggalkan ruangan. Bisik-bisik mulai mengusik. Tatapan-tatapan tajam mulai meneror Fajar. “Hoalah, kenapa harus jadi pengacau!”. Pekik-pekik sindiran mulai bunyi ditengah keramaian. Ia tunduk bisu dan tak bergerak. Langkah-langkah kaki satu persatu menginggalkan ruangan.

      Tersisa hanya tinggal mereka dikelas. Dengan wajah yang cukup kesal ia menghamipiri. “Sudah kubilang jangan terlalu idealis!” sentak Surya.

      “Idealis? Aku hanya mengatakan apa yang menjadi kesepakatan kita dan aturan yang ada!” Ia mulai mengangkat kepalanya dengan tatapan yang memancarkan emosi.

     “Tidakkah kau seharusnya sudah memahami Jar! Hati bisa mengalahkan pikiran! Benar kita sepakat dengan ini tapi apakah hati kita sudah seperti baja mampu melawan dosen seperti itu? Coba kau perhatikan mimik wajah rekan kita tadi. Tidak kau dapat menangkap ketakutan pada mereka? Terlebih pada ancaman itu, apakah mimik wajah itu tidak mengajarkanmu akan kecemasan dari teman yang lain? Kau tidak dapat melawan sendirian!”.

      “Benar, benar yang kau katakan! Bahkan aku juga melihat wajah itu pada dirimu! Dasar pecundang! Jika hal sekecil ini saja tidak dapat kita lawan apalagi hal besar nantinya. Akankah kebenaran berubah jadi kesalahan ketika rasa takut sebagai dalang pembelotan? Tidak! Dan kau telah mendiamkan apa yang seharusnya. Aku kecewa padamu!”.

     “Pecundang katamu? Bukankah orang yang terlalu membawa ego besarlah pecundang? Kau tak memahami kondisi! Apakah kau mau mengorbankan perasaan rekan-rekanmu yang lain demi keegoisanmu itu? Tidakkah kau memikirkan ketakutan akan hari kedepan jika hanya karna persoalan kecil ini mengagalkan perkuliahan kita? Tidakkah kau menghormati mereka yang menjaga perasaan orang tua mereka? Kau pasti memahami ini! Lantas kenapa engkau melakukan tindakan konyol seperti tadi! Kenapa kau ingin jadi pemberontak di kelas ini! Tidak kah kau menghormati aku pula!”

      “Kau bilang aku ego? Konyol? Bukankah kata-kata itu seharusnya kutujukan pada kalian para penghianat! Bulshit! Aku tidak akan menghamba padamu! Aku hanya akan menghamba pada kebenaran. Apakah kau juga tidak memahamiku? Ayahku seorang buruh dan ibuku pembantu rumah tangga! Aku tergolong miskin diantara kalian dan kalian meminta aku untuk memahami kehidupan kalian? Sekali lagi apakah aku konyol bertindak seperti ini!!! Bagi kalian hidup sebuah kebahagiaan. Kalian serba kecukupan. Namun tidak bagiku! Hidup hanyalah jejak-jejak penderitaan dan itu harus kujadikan sebagai kebahagiaan agar aku dapat merasakannya! Tidakkah kau telah jauh memahami ini! Kau pikir dari mana semua kemiskinan ini berasal? Bukankah tingkah dosen tadi salah satunya? Dan bukankah tingkah para pecundang tadi juga sebagai pelakunya? Sekali lagi apakah ini yang kau maksudkan ke-egoisanku? Kekonyolanku? Kuharap kau mengerti apa yang kumaksud!” tetes air mata mulai menetes dalam raut wajah yang begitu penuh luapan emosi.

       “Untuk apa semua ini? kenapa? Kenapa harus seperti ini! Kenapa kau harus memilih jalan seperti ini?”

       “Aku muak dengan kesumpekan hidup ini! Tidakkah hatimu bergetar ketika ibumu dimaki tepat diujung matamu? Tidakkah hatimu bergetar ketika ayahmu mulai meneteskan air mata untuk membayar uang kuliah-mu? Itulah yang kurasakan! Dan ketika aku melihat keegoan dosen yang seenaknya saja memungut apa yang seharusnya tidak dilakukannya tentu aku berontak. Aku tidak ingin membawa kebenaran pada liang kuburnya. Kau pikir aku tidak ditakuti rasa takut sama seperti kalian? Bedanya aku melawan rasa takut itu! Ketika kita telah mengetahui bahwa kemiskinan ini karna ego segelintir orang yang begitu tamak akan kehidupan ini dan kau menemukanya berada tepat dihadapanmu maka kita harus memilih! Apakah kita akan melawan demi tegaknya hal benar atau menjadi pecundang yang menghamba pada ketakutan! Dan kau sebagai sahabat, aku sangat benci engkau karena telah menyadari ini semua!”.

      “Lantas apakah aku salah ketika memihak pada kepentingan orang yang lebih banyak? Bukankah aku bertindak sesuai apa yang diinginkan mereka? Jika itu tidak aku lakukan layakkah aku menjadi pemimpin? Coba katakan padaku!”

       “Kebenaran bukan terletak pada suara banyak orang! Ingat itu! berpikirlah adil Sur! Adil pada yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya! Tentu sekarang kau tinggal memilih apakah kau ingin menjadi apa yang orang harapkan atau kau ingin menjadi apa yang kau harapkan! Pilih lah! Karena aku adalah orang yang menjadi apa yang aku harapkan. Karena jika tidak sama saja aku menghilangkan kemerdekaanku pada orang lain. Jadilah diri sendiri!” tangis deras mencucurkan air mata. Fajar bergegas meninggalkan Surya dengan wajah yang penuh amarah.

       Hampa. Kering. Angin berhembus menyapu tetes demi tetes air mata. Kedua insan setengah baya itu terisak tangis. Sejenak Surya merenungkan perdebatan yang terjadi. “Tidak, aku tidak adil”. Lambat laun dirinya mulai menyadari dengan tertunduk dan terus menangis. “Tak seharusnya rasa takut ini kupakai untuk membenarkan sesuatu, dia benar”. Rasa kecewa mulai muncul pada hatinya. “Kau benar, sungguh tak pantas bagi seorang sahabat!”. ***